Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan petani, khususnya di kawasan Jalan Usaha Tani, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Hingga kini, para petani di wilayah tersebut masih mengandalkan sistem pengairan sederhana yang sangat bergantung pada intensitas curah hujan.
Salah seorang petani setempat, Pariyem (58), menuturkan dampak cuaca panas mulai dirasakan meski belum menyebabkan gagal panen. Namun, menurutnya, kondisi saat ini belum sepenuhnya aman karena keterbatasan pasokan air masih menjadi kendala utama, terutama menjelang masa tanam.
Ia memprediksi aktivitas penanaman berikutnya belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Bahkan, hingga mendekati Iduladha, lahan sawah dinilai belum siap untuk kembali digarap.
“Masih jauh, paling tidak lebaran Iduladha juga belum bisa,” ungkap Pariyem pada KoranKaltim.com, Jumat (8/5/2026).
Dalam setahun, dirinya hanya mampu memanen padi di lahan persawahannya sebanyak dua kali. Keterbatasan sistem irigasi memaksa mereka mengandalkan aliran parit yang disedot menggunakan mesin pompa air (alkon). Sayangnya, penggunaan mesin ini sering kali tidak efektif lantaran ketersediaan air yang fluktuatif.
“Kadang sehari habis lima sampai tujuh liter (BBM) untuk alkon, tapi airnya juga tidak tentu. Tetap menunggu hujan,” jelasnya.
Selain faktor alam, dia mengeluhkan terbatasnya bantuan melalui kelompok tani. Dukungan berupa pupuk maupun pestisida kerap kali tidak datang pada saat yang dibutuhkan.
“Pupuk kadang dapat satu karung 70 kilogram, tapi tidak selalu pas waktu mau tanam. Obat kadang dapat satu botol, dibagi-bagi,” tambahnya.
Beban petani semakin bertambah dengan adanya biaya pengolahan lahan. Untuk menyewa traktor bagi tiga petak sawah, ia harus merogoh kocek hingga Rp500 ribu.
Pariyem yang telah berpuluh-puluh tahun mengelola sawah keluarga ini menyebut bahwa risiko gagal panen sebelumnya justru lebih sering dipicu oleh banjir. Meski dibayangi kekeringan dan keterbatasan alat, ia bersyukur hasil panen terakhirnya masih tergolong produktif. “Itu 11 karung hitungan kotornya,” tutupnya.
Editor: Erwin