Berdasarkan pantauan Korankaltim.com di lapangan, ruas jalan tersebut kerap dipadati sepeda motor yang parkir sembarangan setiap malam, sehingga kerap mengakibatkan penyempitan jalur dan kemacetan arus lalu lintas.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda, Hotmarulitua Manalu menilai persoalan menahun ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan penindakan di lapangan. Sebab, terdapat akar masalah di bagian hulu yang selama ini belum tersentuh secara maksimal.
Salah satu solusi yang tengah digagas adalah penutupan deretan warung yang berdiri di atas lahan Hak Guna Bangunan (HGB) milik Inhutani.
Keberadaan tempat usaha tersebut dianggap sebagai pemicu utama maraknya aktivitas parkir sembarangan di kawasan tersebut.
Upaya penindakan sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan. Oleh sebab itu, langkah tegas berupa penutupan warung di lahan HGB serta pembangunan tembok pembatas dianggap sebagai solusi permanen.
“Dua sampai tiga tahun lalu sudah saya sampaikan, munculnya parkir tersebut karena adanya toko dan warung yang ada HGB,” ujar Manalu.
Ia mengaku telah memanggil pihak terkait, termasuk Inhutani, untuk membahas opsi pemagaran area agar tidak lagi dimanfaatkan sebagai lokasi parkir ilegal. “Tapi tidak akan selesai karena hulunya belum diobati,” tambahnya.
Di sisi lain, Dishub Samarinda juga melakukan penataan di bagian hilir dengan menerapkan pungutan parkir resmi, meski langkah ini dinilai belum cukup tuntas. Manalu merencanakan adanya perubahan desain infrastruktur jalan dengan menghilangkan celukan-celukan atau kantong parkir yang ada saat ini.
Selain itu perubahan orientasi bangunan di kawasan tersebut yang kini justru menghadap ke jalan raya, disebut juga memicu munculnya aktivitas parkir baru.
“Dulu rumah-rumah menghadap ke sebelahnya. Sekarang malah menghadap Jalan Anggi. Inilah penyebabnya,” ucapnya.
Meski aktivitas parkir di kawasan tersebut turut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), dampak berupa kemacetan dan kekumuhan tetap menjadi prioritas perhatian pemerintah.
Keberadaan kegiatan Car Free Day (CFD) setiap akhir pekan pun dinilai cukup membantu dalam mengembalikan fungsi jalan secara berkala.
“Per mobil Rp7 ribu karena padat parkir. Tapi dampaknya sempit dan kotor. Dengan adanya CFD sudah agak jauh (teratasi),” pungkasnya.
Editor: Erwin