Meski saat ini Kaltim masih menikmati bonus demografi, ancaman peningkatan jumlah penduduk lanjut usia mulai terlihat dan berpotensi memengaruhi kondisi sosial maupun ekonomi daerah pada masa mendatang.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, pertumbuhan penduduk Kaltim dalam lima tahun terakhir melambat menjadi 1,52 persen per tahun. Pada saat yang sama, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dan mulai mendekati kategori ageing population atau populasi menua.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengatakan bonus demografi saat ini masih menjadi kekuatan utama daerah karena mayoritas penduduk berada pada usia produktif.
Kondisi itu terlihat dari tingginya aktivitas generasi muda di pusat-pusat perkotaan, pendidikan, hingga sektor informal dan UMKM.
“Komposisi penduduk kita memang masih didominasi usia produktif. Ini sebenarnya peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi jika mampu dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya dalam rilis resmi SUPAS 2025, Kamis (7/5/2026).
Meski demikian, BPS mencatat proporsi penduduk lanjut usia di Kaltim kini sudah mencapai 9,05 persen. Bahkan Samarinda dan Balikpapan telah melampaui ambang populasi menua dengan angka di atas 10 persen.
Menurut Mas’ud, kondisi itu menjadi sinyal bahwa bonus demografi tidak akan berlangsung selamanya. Apalagi sejumlah kota besar di Kaltim mulai mengalami migrasi risen neto negatif, yang menunjukkan lebih banyak warga keluar dibanding yang masuk.
Samarinda tercatat minus 0,66 persen, sedangkan Balikpapan minus 1,81 persen. Di sisi lain, daerah seperti Penajam Paser Utara dan Bontang justru mengalami peningkatan migrasi masuk.
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang mampu menjaga produktivitas generasi muda, mulai dari lapangan kerja, pendidikan, hingga penguatan keterampilan menghadapi perubahan ekonomi.
“Kalau bonus demografi tidak dimanfaatkan sekarang, maka beberapa tahun ke depan kita justru akan menghadapi tekanan sosial dan ekonomi akibat meningkatnya populasi lansia,” tutupnya.
Editor: Erwin