Keterbatasan ekonomi keluarga disebut menjadi alasan korban tetap menggunakan sepatu tersebut hingga memicu keluhan kesehatan.
Ibu korban Ratnasari menceritakan, perjalanan sakit anaknya yang berlangsung secara bertahap. Awalnya, sang anak hanya mengeluhkan rasa nyeri di bagian kaki. Namun, keluhan tersebut perlahan menjalar ke area pinggang hingga punggung. Kondisi itu berlangsung cukup lama sebelum akhirnya muncul pembengkakan.
“Kurang lebih dua minggu pertama itu belum ada tanda bengkak. Baru setelah sekitar 20 hari, bagian atas kaki mulai terlihat membesar,” ujar Ratnasari saat ditemui pada Kamis (30/4/2026)
Di tengah kondisi tersebut, korban tetap beraktivitas seperti biasa. Ia bahkan tetap menjalani kegiatan magang di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda. Aktivitas yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama diduga memperparah kondisi kesehatannya.
“Dia tetap berangkat magang. Lebih banyak berdiri, duduk hanya saat istirahat. Kalau mengeluh, biasanya setelah pulang ke rumah, bilang kakinya sangat sakit,” tuturnya.
Situasi memburuk sehari sebelum korban meninggal dunia. Kaki korban dilaporkan mengalami pembengkakan cukup parah. Upaya penanganan yang dilakukan saat itu hanya sebatas pemberian suntikan di sekitar lingkungan tempat tinggal.
“Setelah disuntik, dia bilang sudah tidak terlalu sakit. Kami kira kondisinya membaik,” kata Ratnasari.
Namun harapan tersebut tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, korban dinyatakan meninggal dunia, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.
Selain kehilangan, pihak keluarga juga menghadapi kendala saat proses pemakaman. Ratnasari mengaku kesulitan mendapatkan bantuan, termasuk fasilitas ambulans. Ia menyebut sempat meminta bantuan kepada ketua RT setempat, namun tidak mendapatkan solusi yang diharapkan.
“Kami sudah minta tolong karena kondisi ekonomi terbatas, tapi jawabannya ambulans harus bayar,” ungkapnya.
Ia juga mengaku diminta mencari bantuan relawan secara mandiri dalam situasi yang mendesak. “Kami disuruh cari sendiri relawan, padahal anak sudah meninggal,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ratnasari mengungkapkan keluarganya tidak pernah menerima bantuan sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH), meski sempat mencoba mengajukan.
“Dulu pernah menanyakan, tapi katanya sudah tidak ada. Jadi kami tidak melanjutkan,” jelasnya.
Keluarga berharap pemerintah dapat meningkatkan perhatian terhadap masyarakat kurang mampu, khususnya dalam akses layanan kesehatan dan bantuan sosial, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Editor: Erwin