Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Hamzah Umar menjelaskan, kondisi geografis Kota Tepian yang dilintasi Sungai Mahakam menjadi faktor utama penopang stabilitas pasokan.
Hal ini membuat Samarinda memiliki ketahanan sumber air yang lebih baik dibandingkan daerah lain saat menghadapi musim kering. “Kalau Samarinda Alhamdulillah kondisi demografinya dilalui Sungai Mahakam, jadi sumber airnya insyaallah stabil aman. Tetapi harus bijak juga menggunakan air bersih,” ujar Hamzah kepada Korankaltim.com Rabu (22/4/2026) hari ini.
BPBD juga terus berkoordinasi dengan Perumda Tirta Kencana sebagai langkah antisipasi dini. Salah satu pesan penting yang ditekankan adalah kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai melakukan penghematan. "Perumda juga titip pesan menghemat penggunaan air bersih karena sumber air baku juga menipis,” sebutnya.
Direktur Pelayanan Perumda Tirta Kencana Samarinda Widyastuti menambahkan, mereka sudah menyiagakan sejumlah langkah mitigasi guna menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini. Optimalisasi beberapa Instalasi Pengolahan Air (IPA) menjadi tumpuan utama layanan.
“Optimalisasi dari IPA Bendang II dan upgrade (peningkatan) IPA Tirta Kencana yang dilakukan 2025, baru kita rasakan optimalnya di 2026 ini,” jelas Widyastuti.
Selain peningkatan infrastruktur, Perumda Tirta Kencana juga rutin melakukan pengerukan pada titik-titik sumber air yang mengalami pendangkalan. Langkah ini diambil guna menjaga volume air baku tetap tercukupi untuk diproses di instalasi pengolahan.
Sebagai upaya darurat, pemerintah juga berencana memperluas jangkauan posko pengambilan air bersih bagi masyarakat.
Fasilitas yang saat ini masih terpusat di kawasan Cendana akan ditambah ke wilayah strategis lainnya. "Kami akan menambah posko pengambilan air. Saat ini masih di Cendana, nanti bisa disiapkan di wilayah lain seperti Samarinda Seberang atau Samarinda Utara,” sebut Widyastuti.
Dirinya mewanti-wanti adanya risiko intrusi air laut yang kerap membayangi kualitas air baku saat debit sungai menurun drastis. Guna mengantisipasi hal tersebut, peran laboratorium kini diperkuat sebagai lini terdepan pemantauan kualitas air.
Editor: Aspian Nur