Hingga sore hari sekitar pukul 17.30 Wita, demonstrasi masih berlangsung dengan kondisi relatif aman meski aparat keamanan berjaga ketat di lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum memenuhi area depan pagar utama kantor gubernur. Mereka secara bergantian menyampaikan orasi, menyuarakan berbagai tuntutan kepada pemerintah provinsi.
Di sisi lain, aparat kepolisian tampak bersiaga di barisan depan, dipisahkan oleh pagar dari para demonstran. Di dalam kompleks kantor gubernur, personel Dalmas dan Brimob dari Polda Kaltim turut disiagakan dengan perlengkapan pengendalian massa. Sementara itu, pasukan TNI berada di area belakang sebagai langkah antisipasi.
Hingga waktu tersebut, belum terlihat kehadiran Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud untuk menemui massa aksi secara langsung hal mana yang pastinya memicu kekecewaan dari sejumlah peserta demonstrasi.
Veronica yang mewakili kelompok penyandang disabilitas, menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah daerah khususnya terkait isu pengadaan mobil dinas bernilai miliaran rupiah.
“Kalau memang sudah dibeli, apakah bisa begitu saja dibatalkan? Jangan sampai masyarakat hanya diberi janji. Kami tidak ingin dibohongi dengan narasi yang tidak jelas,” kata Veronica dalam orasi.
Kehadirannya dalam aksi tersebut menjadi simbol suara kelompok difabel yang selama ini jarang terlibat langsung dalam demonstrasi. “Saya berdiri di sini membawa suara teman-teman difabel. Ini mungkin pertama kalinya kami ikut turun langsung. Artinya ada sesuatu yang serius sedang terjadi di daerah ini,” katanya.
Mereka merasa hak-hak masyarakat, termasuk difabel, belum sepenuhnya terpenuhi. “Kalau kebutuhan dasar masyarakat tidak diperhatikan, seharusnya ada tanggung jawab dari pemimpin. Jangan hanya menyampaikan janji tanpa realisasi nyata,” tegasnya.
Editor: Aspian Nur