Partisipasi ini menjadi momen penting karena menjadi kali pertama komunitas disabilitas di Kaltim turun langsung ke jalan menyuarakan tuntutan mereka.
Sekitar 30 orang peserta menyampaikan berbagai persoalan yang dinilai semakin memberatkan. Mulai dari dihentikannya Bantuan Sosial Terencana (BST), persoalan layanan BPJS hingga terbatasnya akses kerja yang dinilai belum berpihak pada penyandang disabilitas.
Ketua forum Muhammad Ali mengatakan, mereka masih menunggu arahan lanjutan sembari tetap bersiaga di lokasi aksi dan menyebut keikutsertaan mereka dilandasi oleh keresahan yang telah lama dirasakan.
“Kami saat ini masih menunggu instruksi selanjutnya. Persiapan sudah kami lakukan, tinggal mengikuti arahan di lapangan,” sebut Ali.
Satu dari tuntutan utama adalah dikembalikannya BST yang sebelumnya rutin diberikan setiap tahunyang mana bantuan tersebut sudah berlangsung sejak kepemimpinan gubernur sebelumnya dan sempat mengalami peningkatan jumlah penerima.
“Dulu BST itu selalu ada setiap tahun, bahkan jumlah penerima sempat bertambah. Sekarang justru tidak ada sama sekali dan itu sangat berdampak bagi kami,” tegas Ali.
Selain itu, ia menyoroti masih minimnya peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, baik sektor pemerintah maupun swasta belum sepenuhnya membuka ruang yang setara. “Kami masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kesempatan itu sangat terbatas, bahkan banyak yang tidak diberi ruang,” ungkapnya.
Banyak anggota komunitasnya mengeluhkan BPJS yang tidak aktif sehingga menghambat akses layanan kesehatan.
Sementara Koordinator aksi Veronika menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah daerah yang menilai sejumlah janji, termasuk bantuan kursi roda gratis, belum terealisasi. “Kalau tidak mampu memberikan keadilan, sebaiknya mundur. Kami butuh pemimpin yang benar-benar peduli,” kata Veronika.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi aparat keamanan yang dinilai telah bersikap humanis selama aksi berlangsung dan berharap kegiatan berjalan damai.
Editor: Aspian Nur