Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim terpaksa memangkas jumlah peserta dan lokasi pelatihan yang sebelumnya dirancang menjangkau lebih luas.
Kepala Bidang Penyuluhan dan Pemasaran Disbun Kaltim, Taufiq Kurrahman, menyebut pelatihan selama ini dilakukan langsung di lapangan bersama kelompok tani. Namun, keterbatasan anggaran membuat target tidak lagi bisa dipertahankan.
“Biasanya kita turun langsung ke kelompok tani. Sekarang jumlah peserta dan titik lokasi harus dikurangi menyesuaikan anggaran,” ujarnya kepada Korankaltim.com belum lama ini.
Ia menjelaskan, program yang semula menargetkan ratusan peserta kini harus diturunkan. Bahkan, rencana pelatihan untuk tujuh kelompok tani di sejumlah wilayah terpaksa dipangkas hingga separuhnya.
Dampaknya, peningkatan kapasitas petani terutama pada aspek pascapanen ikut terhambat. Menurut Taufiq, masih banyak petani yang belum memahami standar pengolahan hasil, seperti komoditas lada yang membutuhkan prosedur khusus sejak perendaman hingga penyimpanan.
“Padahal itu menentukan kualitas dan harga jual. Kalau pelatihannya berkurang, peningkatan kualitas juga ikut terhambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh rangkaian program sejatinya dirancang berkelanjutan, mulai dari bantuan bibit, pelatihan budidaya, hingga pengolahan hasil. Namun, kondisi anggaran membuat sejumlah tahapan tidak berjalan optimal.
“Harusnya berkesinambungan. Tapi sekarang banyak yang tertunda karena keterbatasan anggaran,” tutupnya.
Editor: Erwin