Selain pengujian mesin, tahap ini juga diiringi pelatihan teknis bagi petugas yang akan mengoperasikan alat pengolah sampah tersebut.
Salah satu uji coba dilakukan di insinerator kawasan Bengkuring, Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan tim terlebih dahulu melakukan pengecekan menyeluruh, mulai dari sistem kelistrikan hingga alat pengembus (blower), sebelum mesin dinyalakan.
“Awalnya kita cek dulu seluruh kondisi mesin, mulai dari sistem elektrik hingga blower-nya. Setelah dipastikan semuanya berfungsi, baru dilakukan proses pemanasan mesin,” ujar Taufiq, Jumat (10/4/2026).
Tahap pemanasan awal menggunakan bahan bakar kayu selama sekitar 30 menit untuk meningkatkan suhu pembakaran secara cepat.
Sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) baru diperbolehkan dimasukkan ke dalam mesin setelah suhu mencapai ambang batas minimal. Selama sepekan terakhir, jumlah sampah yang telah dibakar tercatat sekitar 12 ton.
“Minimal suhu 600 derajat baru sampah bisa dimasukkan. Kalau sampahnya basah harus di atas 800 derajat, karena kalau di bawah itu masih menimbulkan asap,” jelasnya.
Pada tahap uji coba ini, pembakaran dilakukan selama setengah hari dan dihentikan maksimal pukul 14.00 WITA untuk memasuki proses pendinginan.
Petugas tetap bersiaga sekitar dua jam guna memastikan api benar-benar padam dan kondisi mesin aman sebelum ditinggalkan.
“Setelah api benar-benar mati, kami lakukan pengecekan terakhir kondisi mesin dan pembersihan. Petugas juga sudah disiapkan fasilitas ruang istirahat dan kamar mandi sebelum mereka pulang,” terangnya.
Saat ini, uji coba masih berlangsung dalam skala terbatas karena para operator tengah menjalani pelatihan teknis. DLH Samarinda juga terus mencari pola terbaik dalam mengelola sampah yang masuk, mengingat sampah dari TPS umumnya masih tercampur antara jenis kering dan basah.
“Ini program baru, jadi terus kita evaluasi sambil mencari pola yang paling efektif. Monitoring dan pengawasan juga terus kita lakukan,” tambah Taufiq.
Pengawas insinerator, Mustofa menyebutkan terdapat 15 pekerja dari lokasi Bukit Pinang, Lempake, dan Wanyi yang mengikuti pelatihan tersebut. Secara keseluruhan, Pemkot Samarinda memiliki 10 unit insinerator, namun baru tiga titik yang mulai dioperasikan dalam tahap uji coba.
Tiga lokasi tersebut mencakup Jalan Wanyi, kawasan Lok Bahu yang nantinya mengoordinasi sampah dari Simpang Pasir dan Tani Aman, serta kawasan Polder bersama dengan Handil Bakti.
“Karena belum semua berjalan, jadi sementara dibagi di tiga titik dulu untuk pembakaran,” pungkasnya.
Editor: Erwin