General Manager Pelindo Regional 4 Samarinda Capt Suparman menyebut pengawasan langsung diperketat sehari setelah kejadian. Pelindo juga melakukan evaluasi internal terhadap seluruh prosedur pemanduan dan operasional kapal sebagai langkah awal perbaikan.
“Setelah kejadian itu, kami langsung melakukan evaluasi terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan di lapangan, termasuk prosedur pemanduan kapal,” kata Suparman kepada Korankaltim.com Senin (30/3/2026).
Petugas pandu yang bertugas saat kejadian berlangsung telah dikenai skorsing sementara. Sanksi ini diberlakukan sambil menunggu hasil investigasi dari Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda, yang saat ini masih menelusuri penyebab insiden, termasuk kemungkinan kelalaian dan faktor teknis.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari KSOP. Nantinya, keputusan lanjutan akan ditentukan berdasarkan rekomendasi resmi dari hasil investigasi tersebut,” jelas Suparman.
Pelindo juga memperkuat langkah pencegahan dengan meningkatkan pengawasan di bawah Jembatan Mahakam I, salah satu titik paling krusial dalam navigasi kapal besar. Berbagai teknologi disiapkan, seperti pemasangan CCTV, kapal assist, serta sensor peringatan dini untuk memantau pergerakan kapal.
“Kami juga memasang alat pengukur arus di bawah Jembatan Mahakam I dan Mahakam Ulu agar perubahan arus dapat dipantau secara real-time,” ujarnya.
Insiden yang terjadi pada 8 Maret 2026 itu sempat terekam warga dan memicu kekhawatiran publik. “Dalam rekaman terlihat kapal menyenggol fender jembatan, sehingga wajar jika masyarakat khawatir,” tambahnya.
Pelindo memastikan pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan untuk menjaga keamanan jembatan. “Kami terus berkoordinasi dengan KSOP dan instansi terkait demi memperkuat keselamatan pelayaran,” pungkas Suparman.
Editor: Aspian Nur