Wali Kota Samarinda Andi Harun mengakui keberadaan 10 insinerator yang disiapkan saat ini masih belum mampu menampung seluruh volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
“Tentu belum, karena kami punya sampah itu lebih dari 600 ton per hari,” ujar Andi Harun.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah merencanakan pembangunan fasilitas dengan kapasitas lebih besar yang akan ditempatkan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 100 ton dalam delapan jam, atau jauh lebih besar dibandingkan insinerator yang ada saat ini.
“Tapi nanti kami menyiapkan satu, apakah itu insinerator besar yang mungkin kapasitasnya 100 ton per 8 jam,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Samarinda juga membuka opsi pengolahan sampah berbasis energi, seperti waste to energy yang mampu mengubah sampah menjadi listrik.
“Bisa juga melalui pengolahan sampah berbasis energi atau listrik, atau model lain seperti hidrolisis maupun subkritis,” tambahnya.
Pembangunan fasilitas berskala besar itu sendiri
membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Krena itu pemerintah berupaya menggandeng pihak swasta melalui skema kerja sama bisnis.
“Kami berusaha agar instalasi besar ini tidak memakai APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Kita dorong kerja sama dengan pihak swasta,” ujar Andi Harun.
Saat ini, terdapat beberapa investor yang telah menyatakan minat, termasuk perusahaan dari dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan seleksi ketat terhadap calon mitra. Ia juga menolak skema kerja sama yang berpotensi membebani keuangan daerah, seperti adanya jaminan APBD apabila proyek tidak mencapai target.
“Kami tidak hanya melihat keinginan kerja sama, tapi juga bonafid dan keseriusannya. Harus realistis dengan kemampuan keuangan daerah,” terangnya.
Di sisi lain, residu hasil pengolahan sampah juga direncanakan memiliki nilai tambah ekonomi. Abu hasil pembakaran akan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti paving block hingga material konstruksi lainnya.
“Jadi tidak akan sia-sia karena memberi nilai manfaat ekonomi,” tutup Andi Harun.
Editor: Aspian Nur