Kapal ini membawa 1.683 penumpang termasuk anak-anak, menandai dimulainya gelombang arus balik dari berbagai daerah menuju Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur.
Agus, seorang penumpang mengungkapkan, perjalanan menggunakan kapal tetap menjadi pilihan paling efisien baginya dan keluarga setelah mudik dari Enrekang. “Saya dari Enrekang (Sulawesi) ke Samarinda. Memang tiap tahun pulang kampung karena orangtua masih ada. Kapal jadi pilihan karena lebih dekat dari rumah ke pelabuhan, perjalanannya juga nyaman,” ujar Agus.
Pria berusi 54 tahun ini menyebut suasana selama perjalanan cukup nyaman. Kondisi di dalam kapal menurutnya bagus, meski penumpang cukup padat namun masih wajar.
“Bagus saja, padat tapi tidak terlalu. Kondisinya cukup nyaman, tempat tidurnya juga tertata. Hanya ada satu kekurangan, yaitu fasilitas ibadah kurang memadai karena penumpang padat, jadi agak sulit menjangkau musala,” jelasnya.
Harga tiket kapal tahun ini tetap stabil tanpa lonjakan. “Masih normal, tidak ada kenaikan. Selama tiga tahun berturut-turut pulang kampung, harganya stabil,” katanya.
Sementara Capt Sahrun Asis, Kasi Penjagaan, Patroli dan Penyidikan KSOP Kelas I Samarinda menyebut kedatangan KM Prince Soya menjadi momentum awal memadatnya arus balik. “Hari ini ada KM Prince Soya yang melayani arus balik perdana di H+5 dengan jumlah penumpang 1.683 orang termasuk anak,” jelas Sahrun kepada Korankaltim.com.
Keluarga penjemput diminta menunggu di batas yang telah ditentukan demi keamanan dan kelancaran arus penumpang. "Cukup menunggu di batas yang ditentukan. Kondisi arus balik hari ini aman, lancar dan tertib,” sebut Sahrun lagi.
Puncak arus balik diperkirakan terjadi akhir pekan dengan kedatangan KM Queen Soya dan KM Aditya. KM Prince Soya sendiri berlayar dari Pelabuhan Parepare ke Samarinda, menjadi kapal pertama yang merapat pasca Lebaran dan membuka alur kedatangan massal penumpang ke Kalimantan Timur.
Editor: Aspian Nur