Sejak fajar menyingsing, aktivitas di dalam Lapas mulai terlihat. Warga binaan bersiap dengan pakaian terbaik yang mereka miliki. Sebagian mengenakan baju koko putih lengkap dengan peci, sementara yang lain tampil sederhana namun tetap rapi dan bersih. Dari balik pagar besi, gema takbir perlahan terdengar dan menciptakan suasana religius.
Dari pantauan di lapangan, para warga binaan berjalan tertib menuju area salat di dalam Lapas. Tidak terjadi keramaian berlebihan, melainkan barisan jemaah yang tersusun rapi dengan wajah yang tampak tenang. Kekhusyukan terasa lebih mendalam dibandingkan dengan pelaksanaan salat Eid di ruang terbuka.
Salat Idulfitri berlangsung tertib di bawah pengawasan petugas. Pada momen tersebut, kebersamaan terasa kuat meski tanpa kehadiran keluarga. Usai salat, warga binaan saling berjabat tangan sebagai bentuk silaturahmi, menggantikan tradisi berpelukan yang biasa dilakukan di luar.
Salah satu warga binaan, Muhammad Harianto, mengungkapkan bahwa perayaan Idulfitri di dalam lapas memberikan pengalaman batin yang berbeda.
“Di sini kita lebih banyak merenung. Rasanya Idulfitri jadi momen untuk benar-benar introspeksi diri,” ujarnya singkat.
Khotbah Idulfitri yang disampaikan oleh imam sekaligus khatib, Kusransyah, menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Dalam pesannya ia mengajak seluruh jemaah untuk tidak kehilangan harapan, sekaligus menjadikan hari kemenangan sebagai titik awal perubahan diri.
“Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya,” tuturnya, mengutip pesan Al-Qur’an.
Ia juga menegaskan setiap individu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama masih diberi kehidupan.
“Kita mungkin tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi kita selalu punya peluang untuk memperbaiki masa depan,” lanjutnya.
Di tengah keterbatasan ruang dan kebebasan, Idulfitri di dalam Lapas justru terasa lebih sederhana namun mendalam. Tidak ada gemerlap perayaan, tetapi ada kehangatan, harapan, dan tekad untuk memulai hidup yang lebih baik.
Dari balik jeruji, hari kemenangan tetap dirasakan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keikhlasan dan harapan akan perubahan.
Editor: Erwin