Situasi konflik yang terus berkembang tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas, tidak hanya bagi negara yang terlibat langsung, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Sabaruddin menegaskan, eskalasi konflik internasional tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Ia mengingatkan bahwa kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil dapat memengaruhi berbagai sektor strategis, terutama energi, perdagangan, dan logistik nasional.
Menurut Sabaruddin, dinamika geopolitik yang saat ini banyak diberitakan media internasional sebenarnya bukanlah situasi yang muncul secara tiba-tiba. Ia menilai berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, telah memperkirakan potensi ketegangan global tersebut sejak beberapa waktu lalu.
“Situasi geopolitik yang berkembang sekarang sebenarnya sudah diprediksi sejak beberapa bulan bahkan beberapa tahun sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana media internasional terus menyoroti perkembangan konflik tersebut,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Apalagi kata dia, jika konflik berskala besar benar-benar terjadi dan meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung dalam peperangan.
Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi memicu gangguan terhadap stabilitas ekonomi dunia, terutama pada sektor energi dan distribusi logistik. Sabaruddin menilai sektor energi menjadi salah satu aspek yang paling rentan terdampak apabila krisis global terjadi.
Ia menyinggung pernyataan pemerintah pusat sebelumnya yang menyebutkan bahwa cadangan energi nasional Indonesia masih memiliki keterbatasan jika dihadapkan pada kondisi darurat berskala besar.
“Pernah disampaikan, cadangan energi nasional kita diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 21 hingga 22 hari apabila terjadi krisis global. Hal ini tentu menjadi perhatian serius yang perlu diantisipasi sejak dini,” jelasnya.
Sebagai pimpinan komisi yang membidangi sektor ekonomi dan sumber daya alam, Sabaruddin menilai kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional.
Menurutnya, Indonesia perlu memiliki strategi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga dalam situasi darurat. Ia juga mempertanyakan kesiapan infrastruktur penyimpanan energi strategis di Indonesia.
Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat adanya fasilitas cadangan energi berskala besar yang dirancang khusus untuk menghadapi kondisi krisis global.
“Seharusnya ada fasilitas cadangan strategis seperti bunker atau tempat penyimpanan energi dalam jumlah besar yang dapat menopang kebutuhan nasional ketika terjadi situasi darurat. Hal ini penting untuk dipikirkan secara lebih serius,” katanya.
Meski demikian, Sabaruddin mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang selama ini terus berupaya mengambil peran diplomatik di tingkat internasional guna mendorong terciptanya perdamaian di tengah ketegangan global.
Politisi Gerindra itu berharap berbagai upaya diplomasi tersebut dapat membantu meredakan konflik dan mencegah eskalasi yang lebih luas.
“Sehingga tidak menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia,” tegasnya.
Sebagai wakil rakyat di daerah, ia mengakui pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam mempengaruhi dinamika geopolitik internasional. Oleh karena itu, pihaknya hanya bisa berharap agar situasi global dapat segera mereda.
“Kami di daerah tentu berharap konflik ini tidak berkembang menjadi krisis besar yang berdampak langsung terhadap Indonesia,” tuturnya.
Di tengah momentum bulan Ramadan, Sabaruddin juga mengajak masyarakat untuk turut mendoakan agar situasi dunia kembali kondusif. Ia berharap negara-negara yang terlibat konflik dapat menahan diri dan memilih jalur dialog serta diplomasi.
“Kita juga mendoakan saudara-saudara kita yang berada di wilayah konflik. Mudah-mudahan semua pihak dapat menahan diri dan mencari jalan damai demi menjaga stabilitas dunia,” pungkasnya.
Editor: Erwin