Sejumlah siswa sekolah terpaksa menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung atau katrol sederhana yang berisiko tinggi.
Demmu menegaskan, persoalan ini telah lama disuarakan masyarakat dan meminta pemerintah daerah segera mengambil tindakan mengingat kereta gantung yang berada di kawasan Equator, Santan Ulu, telah digunakan warga selama bertahun-tahun.
Fasilitas darurat tersebut menjadi satu-satunya akses bagi masyarakat untuk menyeberangi sungai menuju kawasan hamparan lahan perkebunan.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan area yang dimanfaatkan warga untuk kegiatan berkebun dan menanam berbagai komoditas hortikultura.
Namun untuk mencapai lokasi tersebut, masyarakat harus menggunakan jembatan gantung sederhana dengan sistem rol atau katrol yang sangat berbahaya.
“Sudah berapa tahun masyarakat menyuarakan persoalan jembatan itu. Di sana ada hamparan lahan yang dimanfaatkan rakyat untuk berkebun hortikultura, tetapi aksesnya hanya menggunakan jembatan gantung dengan katrol,” ujar Demmu, Senin (9/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi tersebut sangat membahayakan keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari harus menyeberangi sungai menggunakan fasilitas seadanya.
Selain konstruksi jembatan yang tidak layak, ancaman lain juga datang dari kondisi sungai di bawahnya yang cukup berbahaya. Arus sungai diketahui cukup deras dan terdapat potensi kemunculan buaya di wilayah tersebut.
“Bayangkan kalau tiba-tiba jatuh. Di bawah itu arusnya deras, belum lagi ada ancaman buaya yang bisa saja muncul. Ini sangat berbahaya bagi warga, apalagi anak-anak,” tegasnya.
Politisi PAN itu juga menyebut Pemkab Kukar sebenarnya sudah mengetahui kondisi tersebut. Karena itu, ia mendesak agar pemerintah daerah segera menindaklanjuti keluhan masyarakat dengan membangun jembatan yang aman dan layak.
“Sebenarnya Kabupaten Kukar itu baik bupati sudah tahu nah cuma kita minta supaya itu ditindaklanjuti itukan sangat berbahaya sungai di bawahnya itu,” pungkasnya.
Editor: Erwin