Genangan air itu diduga terjadi akibat sistem drainase yang tidak lagi berfungsi optimal. Warga menilai saluran air di kawasan tersebut tersumbat oleh endapan lumpur dan material tanah yang terbawa air hujan.
La Sugana, warga terdampak kondisi tersebut kepada Korankaltim.com mengatakan, sejak sekitar empat bulan terakhir dirinya merasakan hal tersebut. Air yang menggenang di halaman rumah warga sangat sulit surut meskipun hujan sudah berhenti. “Kurang lebih sudah empat bulan halaman rumah kami sering tergenang. Airnya lama sekali surut karena saluran air di sekitar sini tidak berfungsi dengan baik,” ujar Sugana sabtu (7/3/2026)
Sebenarnya ada parit disekitar permukiman warga namun dipenuhi lumpur dan sedimen sehingga tidak lagi mampu mengalirkan air sebagaimana mestinya. “Parit memang ada, tapi kondisinya sudah penuh lumpur. Air jadi tidak bisa mengalir. Bahkan gorong-gorong yang ada juga tersumbat karena sedimentasi,” paparnya.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pematangan lahan yang berlangsung di sekitar kawasan tersebut. Material tanah dari area tersebut disebut terbawa aliran air saat hujan dan masuk ke dalam saluran drainase.
Akibatnya, setiap kali hujan turun air langsung meluap dan menggenangi halaman rumah warga. Genangan tersebut bahkan kerap bertahan cukup lama sebelum akhirnya surut. “Kalau hujan turun, air langsung naik ke halaman rumah. Karena salurannya tersumbat, airnya tidak cepat mengalir keluar,” ucap Sugana lagi.
Warga juga mengaku hingga kini belum melihat adanya upaya penanganan serius dari pihak terkait. Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa persoalan yang mereka alami belum mendapat perhatian. “Rasanya seperti tidak ada yang melihat kondisi kami di sini. Padahal genangan ini sudah terjadi berbulan-bulan,” keluhnya.
Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, genangan air yang berlangsung lama juga menimbulkan kekhawatiran terkait kesehatan lingkungan, seperti potensi berkembangnya nyamuk dan sumber penyakit lainnya.
Sugana berencana menyampaikan persoalan tersebut kepada DPRD Samarinda agar pemerintah dapat segera mengambil langkah penanganan. “Kami berharap ada normalisasi drainase, pembersihan parit, dan pembenahan gorong-gorong supaya air bisa kembali mengalir lancar,” harap Sugana.
Media ini sudah berusaha mengkonfirmasi instansi terkait, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, untuk menanyakan apakah mereka mengetahui aktivitas pematangan lahan di kawasan tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan.
Editor: Aspian Nur