Langkah tersebut dinilai penting mengingat prospek pasar batu bara dalam beberapa waktu terakhir semakin tidak menentu.
Ketidakpastian pasar itu dipicu oleh menurunnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor utama, seperti India dan China. Selama ini, kedua negara tersebut menjadi pasar utama batu bara asal Kaltim.
Penurunan permintaan tersebut berdampak langsung terhadap kinerja ekspor sekaligus memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Menanggapi kondisi tersebut, anggota Komisi II DPRD Kaltim, Firnadi Ikhsan meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah strategis.
Menurutnya, pemerintah perlu mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Ia menilai Kaltim perlu mencari sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan.
Firnadi juga menyampaikan meskipun batu bara masih menjadi salah satu potensi utama yang dimiliki Kaltim, terdapat sejumlah sektor lain yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan dan bahkan berpotensi melampaui kontribusi sektor tambang.
“Kalau kita melihat kondisi umum, memang potensi utama Kaltim selama ini adalah batu bara. Namun sebenarnya masih ada sektor lain yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujar Firnadi, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, sektor perkebunan dan perikanan merupakan dua bidang yang memiliki peluang besar untuk menjadi penopang ekonomi baru bagi daerah.
Dia menilai produksi perikanan di Kaltim saat ini cukup melimpah dan memiliki potensi untuk terus ditingkatkan.
Politisi PKS itu juga menambahkan, Kaltim saat ini telah mencapai kondisi swasembada pangan di sektor perikanan. Hal tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pengelolaan sektor tersebut agar mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan daerah.
Dengan pengelolaan yang lebih maksimal, sektor perikanan diyakini dapat menjadi salah satu sumber pemasukan yang signifikan bagi Kalimantan Timur di masa mendatang.
“Selama ini kita sangat bergantung pada sektor pertambangan. Karena itu, sudah saatnya ada kesadaran bersama untuk mulai mengembangkan sektor lain seperti perikanan dan perkebunan,” tegasnya.
Meski demikian, Firnadi mengingatkan bahwa proses peralihan dari sektor tambang menuju sektor ekonomi lainnya tidak dapat dilakukan secara instan.
Dirinya menilai diperlukan waktu, strategi yang matang, serta komitmen bersama agar sektor non tambang dapat memberikan kontribusi yang sebanding dengan sektor pertambangan.
“Peralihan ini tentu membutuhkan proses dan kesabaran. Kita harus menemukan sektor pengganti yang mampu memberikan pemasukan secara berkelanjutan,” tutupnya.
Editor: Erwin