Menurutnya, sebelum pengadaan dilakukan, pemerintah perlu melihat urgensi dan kebutuhan riil di lapangan.
Dia mempertanyakan alasan pembelian kendaraan baru apabila kendaraan yang ada masih layak dan dapat digunakan.
“Kita harus melihat urgensinya dulu. Kalau yang ada masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru?” katanya belum lama ini.
Pernyataan ini muncul di tengah kebijakan pemerintah pusat yang mendorong efisiensi anggaran, termasuk pengurangan alokasi Transfer ke Daerah (TKD).
Dalam situasi tersebut, Syafruddin menilai pembelian kendaraan dinas bernilai miliaran rupiah berpotensi menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
“Sekarang banyak yang berteriak soal efisiensi dan pengurangan alokasi TKD. Masa harus memaksakan kehendak untuk pengadaan kendaraan baru?” tegasnya.
Ia mengingatkan agar para pejabat, baik di lingkungan eksekutif maupun legislatif, mampu menahan diri dalam penggunaan anggaran negara, terutama untuk kebutuhan yang dinilai belum mendesak.
“Saran saya sebagai wakil rakyat, para pejabat harus bisa menahan diri dalam menyediakan kendaraan yang menjadi penunjang mobilitas pimpinan. Mari kita membuka hati melihat realita hari ini,” katanya.
Politisi PKB itu juga secara terbuka menyampaikan pandangannya mengenai nilai pengadaan tersebut. Dengan angka yang disebut mencapai sekitar Rp8 miliar, ia menilai nominal itu terlalu tinggi dalam kondisi saat ini.
“Kurang lebih berapa, Rp8 miliar ya? Buat saya kemahalan. Buat saya loh ya, tapi buat mereka saya tidak tahu,” ujar politisi yang dapil Kaltim itu.
Dirinya menegaskan pernyataannya bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk pengingat agar kebijakan anggaran tetap berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Di akhir pernyataannya, Syafruddin menekankan saat ini masyarakat tengah membutuhkan perhatian dan kepedulian dari para pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif.
Oleh karena itu, setiap kebijakan anggaran harus mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi yang sedang dihadapi rakyat.
“Yang pasti, saya hanya mengingatkan saja, mari kita realistis melihat fakta-fakta yang ada. Karena sekarang masyarakat sedang membutuhkan perhatian dan kepedulian para pemimpin,” tutupnya.
Editor: Erwin