Rangkaian ibadah diawali dengan prosesi penyucian rupang atau patung suci yang telah dilakukan selama sepekan sebelumnya.
Wakil Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) sekaligus rohaniwan, Jiao Sheng (Js) David Hermanto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bagian penting dalam tahun baru Imlek. Ia menyebut, dalam ajaran Konghucu terdapat keyakinan tentang para suci yang “naik ke langit” menjelang Imlek sehingga umat berkewajiban membersihkan rupang setahun sekali.
“Iya, karena seminggu sebelum Imlek itu dalam agama Konghucu ada namanya para suci naik ke langit. Jadi mereka naik ke langit, kami bertugas untuk membersihkan rupangnya atau patungnya setahun sekali,” ujarnya.
Setelah prosesi penyucian, ibadah dilanjutkan dengan sembahyang di luar dan di dalam kelenteng. David menerangkan umat diwajibkan terlebih dahulu bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum menghaturkan doa kepada para suci, nabi, dan leluhur.
“Kami bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa itu tidak ada wujudnya, tidak ada patungnya, karena Tuhan itu tidak bisa dilihat, tidak bisa dipersonifikasikan, tapi kita bisa merasakan kehadirannya lewat hukum-hukum alam-Nya,” katanya.
Perayaan Imlek tahun ini mengangkat tema “Kalau Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan”. Ia menilai keadilan sosial menjadi kunci terciptanya kesejahteraan masyarakat.
“Kalau negara hadir dan bisa adil kepada seluruh warga negaranya, niscaya rakyatnya hidup makmur dan tidak ada lagi yang berada di garis kemiskinan,” tuturnya.
David juga berharap momentum Tahun Kuda Api menjadi refleksi bagi umat untuk semakin mawas diri serta meningkatkan iman dan kekhusyukan dalam beribadah sepanjang tahun.
Editor: Erwin