Bayi orangutan yang diperkirakan masih berusia 15 bulan tersebut sebelumnya sempat membuat heboh warga setempat karena berperilaku cukup agresif.
Dalam rilis kepada Korankaltim.com Senin (16/2/2026) hari ini, Tim Seksi KSDA Wilayah II Tenggarong bersama Conservation Action Network (CAN) dan warga melakukan penyelamatan saat bayi orangutan sedang tertidur di atas pohon mangga. Tim sempat melakukan pemeriksaan fisik sebelum akhirnya berhasil mengevakuasi satwa dilindungi tersebut.
Direktur CAN Paulinus Kristanto menduga bayi orangutan itu terpisah dari induknya sehingga masuk ke perkarangan warga untuk mencari makan.
"Bayi orangutan ini kemungkinan terpisah dengan ibunya, sehingga berusaha bertahan mencari makan ke pohon buah mangga yang berada di perkarangan warga," ujar Paulinus dalam keterangannya.
Keberadaan orangutan di area permukiman menunjukkan satwa tersebut sedang mencari makanan. Dalam situasi seperti ini, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan penyelamatan dapat dilakukan dengan aman dan cepat oleh petugas berwenang.
“Ini pentingnya call center BKSDA, jika ada kejadian seperti ini warga dapat segera melapor dan tidak bertindak sendiri. Sehingga upaya gerak cepat tim penyelamatan bisa sangat efektif,” jelas Paulinus lagi.
Bayi orangutan yang diberi nama Panji itu sudah berada di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam yang dikelola oleh CAN untuk menjalani pengecekan medis dan penanganan lebih lanjut guna memulihkan kondisinya.
Tim medis sudah observasi lanjutan dan bakal menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan rehabilitasi hingga pelepasliaran bayi orangutan itu jika kondisi memungkinkan.
“BKSDA Kaltim mengapresiasi dan berterima kasih kepada warga yang terlibat dalam penyelamatan. Ini jadi pengingat respons cepat dan pelaporan resmi jauh lebih aman dibandingkan tindakan penanganan sendiri, terutama ketika berhadapan dengan satwa liar yang dilindungi,” tutup Paulinus. (*)