Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau secara langsung progres pembangunan serta kesiapan gedung yang direncanakan menjadi fasilitas rawat inap baru RSUD AWS.
Dalam peninjauan, banyak kritikan yang disampaikan, termasuk soal jalan masuk, bed (tempat tidur pasien), luasan pintu, ruang rawat, dan konstruksi bangunan.
Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, mengatakan fokus utama DPRD yakni memastikan gedung tersebut dapat mulai difungsikan untuk pelayanan kesehatan masyarakat.
“Berdasarkan informasi dari Ibu Direktur RSUD AWS, mudah-mudahan pada bulan Juni sudah bisa digunakan,” ujar Baba.
Ia menjelaskan, Gedung Pandurata nantinya akan menampung sekitar 540 bed yang selama ini berada di gedung lama yang kerap terdampak banjir. Pemindahan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan pasien.
Meski secara fisik bangunan hampir rampung, Baba mengungkapkan masih terdapat kendala pada pemenuhan sarana dan prasarana medis.
Berdasarkan perencanaan, kebutuhan anggaran peralatan diperkirakan mencapai sekitar Rp200 miliar.
“Untuk peralatan, tahun ini akan dilelang anggaran sekitar Rp150 miliar. Namun, secara keseluruhan masih ada kekurangan yang diperkirakan lebih dari Rp200 miliar,” sebutnya.
“Menyesuaikan dengan perencanaan awal dan kemungkinan penambahan kebutuhan alat kesehatan,” jelasnya.
Terkait adanya sorotan terhadap aspek konstruksi gedung bagian dalam, Baba menegaskan bahwa hal tersebut berada di luar kewenangan Komisi IV.
“Kalau terkait konstruksi dan kontrak pekerjaan, itu ranahnya Komisi III DPRD Kaltim,” tegasnya.
Politisi PDIP tersebut juga memastikan tidak ada penambahan jumlah tempat tidur di Gedung Pandurata. Jumlah bed tetap sesuai dengan perencanaan awal, yakni 540 unit.
Dari sisi kesiapan bangunan, Baba menyebut proses pembangunan hampir selesai dan saat ini memasuki masa pemeliharaan.
Beberapa penyempurnaan masih dilakukan, seperti pelebaran pintu dari 120 sentimeter menjadi 160 sentimeter guna memudahkan manuver tempat tidur pasien dan jenazah.
“Secara gedung hampir selesai. Tinggal penyempurnaan kecil dan pemenuhan peralatan. Kalau masa pemeliharaan selesai, kemungkinan Juni atau Juli sudah bisa difungsikan,” ujarnya.
Mengenai kepastian pemenuhan anggaran peralatan medis, Baba menyatakan pihaknya masih akan melihat ketersediaan anggaran daerah.
“Nanti kita lihat apakah ada sisa anggaran atau tidak. Informasinya memang masih dibutuhkan lebih dari Rp200 miliar,” pungkasnya.|
Editor: Erwin