Ia menilai kondisi tersebut berkaitan erat dengan berkurangnya kawasan resapan air akibat alih fungsi lahan.
Ketua Fraksi PKB DPRD Kaltim itu menjelaskan bahwa banyak area yang sebelumnya berperan sebagai penyangga air kini berubah menjadi kawasan permukiman. Dampaknya, wilayah yang dulu aman dari banjir kini justru kerap terendam.
Dia mencontohkan kawasan perumahan WIKA yang sebelumnya tidak pernah mengalami banjir.
Namun, seiring perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya, kawasan tersebut kini menjadi salah satu titik yang sering terdampak genangan air.
“Dulu kawasan itu perbukitan dan tidak banjir. Sekarang setelah dibangun perumahan, banjir justru terjadi,” kata Damayanti, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, tidak hanya satu lokasi, sejumlah titik lain yang sebelumnya bebas banjir kini mulai terdampak.
Hal itu diduga kuat karena daerah resapan air tertutup oleh pembangunan tanpa perencanaan lingkungan yang matang.
Damayanti juga menegaskan pembangunan di Kaltim perlu dilakukan secara seimbang. Kemajuan daerah harus diiringi dengan perlindungan terhadap lingkungan.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tetapi aspek lingkungan juga wajib menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Dirinya pun mendorong pemerintah daerah dan pihak terkait agar lebih selektif dalam memberikan izin pembangunan khususnya pada kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai daerah resapan air.
Editor: Erwin