Dalam periode Januari hingga Desember, tercatat sebanyak 845 bencana melanda berbagai wilayah di Bumi Etam dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai Rp40,79 Miliar.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kaltim, bencana hidrometeorologi masih mendominasi. Banjir menjadi kejadian terbanyak dengan 267 peristiwa, disusul kebakaran pemukiman sebanyak 249 kejadian dan tanah longsor 149 kejadian. Selain itu, gempa bumi tercatat 56 kali, cuaca ekstrem 42 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 34 kejadian, serta sejumlah bencana lain seperti kekeringan dan gelombang tinggi.
Dampak kemanusiaan akibat rentetan bencana tersebut cukup besar. BPBD mencatat 78 orang meninggal dunia, 22 orang hilang dan 55 orang mengalami luka-luka atau gangguan kesehatan. Sebanyak 278 warga terpaksa mengungsi, sementara lebih dari 161 ribu jiwa terdampak langsung.
Kerusakan infrastruktur juga meluas, mulai dari ratusan ribu rumah yang tergenang, kerusakan kios dan ruko, fasilitas umum, sekolah, perkantoran, hingga fasilitas kesehatan. Akses jalan dan jembatan turut terdampak, serta ratusan hektare lahan terbakar. Memasuki awal 2026, BPBD Kaltim memberi peringatan serius terhadap potensi karhutla.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menyebut kondisi cuaca panas menjadi faktor pendukung meningkatnya risiko kebakaran.
“Cuaca yang lebih panas mempercepat penyebaran api, namun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi penyebab utama,” ujar Buyung, Rabu (4/2/2026).
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Editor: Aspian Nur