Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas jual beli, terutama saat cuaca ekstrem, sementara para pedagang sangat mendambakan kenyamanan di gedung baru tersebut.
Kholif, salah seorang pedagang pakaian, mengungkapkan bahwa keluhan terkait kebocoran dan tampias sebenarnya telah disampaikan kepada instansi terkait. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut konkret di lokasi.
“Kami sudah melaporkan kondisi kebocoran dan tampias. Tinggal kebijakan dari mereka. Kalau hujan atau panas, itu bisa merusak barang dagangan, terutama pakaian,” ujarnya.
Lantaran belum ada kepastian solusi, para pedagang memilih berinisiatif memasang paranet meski tanpa izin resmi demi kelangsungan usaha.
"Ini inisiatif sendiri, tidak ada izin. Kalau hujan atau panas kami tidak bisa berdagang, jadi kami yang repot,” tegas Kholif.
Pemasangan paranet tersebut diakui hanya bersifat sementara. Saat hujan deras mengguyur, beberapa pedagang bahkan memilih menutup kios lebih awal guna menghindari risiko kerusakan barang dagangan.
Kholif yang merupakan pedagang generasi kedua menuturkan, dirinya mulai menempati kios di gedung baru Pasar Pagi sejak awal Januari setelah pembagian kunci. Sebelumnya, ia sempat direlokasi sementara di Segiri Grosir.
"Semoga cepat ada solusi dan tidak diabaikan terlalu lama. Kami berharap keluhan pedagang direspons cepat," harapnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Nurrahmani memastikan solusi yang disiapkan pihaknya adalah penggunaan kanopi atau penutup fleksibel yang dapat menyesuaikan kondisi cuaca.
Pengerjaan ini rencananya akan ditanggung oleh kontraktor melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
"Dananya dari kontraktor. Karena ini di luar perencanaan awal, tapi mereka bersedia membantu," ucap Nurrahmani.
Langkah mitigasi ini mencakup pendataan seluruh titik rawan secara menyeluruh, mulai dari bagian tengah hingga sisi kanan dan kiri pasar.
"Tidak cuma di satu lantai, tapi menyeluruh dan di sisi kanan kiri," pungkasnya.
Editor: Erwin