Usulan agar Polri ditempatkan di bawah kementerian tertentu dinilai bukan sekadar perubahan struktur kelembagaan, melainkan menyangkut prinsip dasar tata kelola negara, khususnya terkait independensi aparat penegak hukum serta keseimbangan kekuasaan dalam sistem demokrasi.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persekutuan Suku Asli Kalimantan (DPP Pusaka) Kalimantan Timur Abdunnur menyebut perlunya pembahasan yang objektif dan berbasis substansi bukan sekadar tarik-menarik kepentingan politik terkait hal itu.
Hampir seluruh organisasi masyarakat di Indonesia telah menyuarakan penolakan terhadap wacana tersebut namun Pusaka memilih untuk melihat persoalan ini secara lebih komprehensif.
“Tentu kami akan melihat secara substansinya, peran dan fungsi kepolisian ini apakah memang untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Apakah posisinya seperti sekarang atau berada dibawah kementerian, itu yang perlu dikaji secara matang,” kata Abdunnur kepada Korankaltim.com disela acara Milad ke-21 Pusaka Sabtu (31/1/2026) hari ini.
Esensi utama keberadaan kepolisian adalah membangun ketertiban masyarakat bersama publik. “Yang paling penting adalah bagaimana kepolisian mampu melibatkan partisipasi masyarakat untuk mewujudkan ketertiban umum sehingga keamanan itu dirasakan sebagai tanggung jawab bersama,” paparnya.
Abdunnur pada kesempatan itu juga memaparkan visi Pusaka sebagai organisasi masyarakat yang berorientasi pada sinergi dengan pemerintah melalui pendekatan intelektual dan profesional. Pusaka mengusung tagline SEP (Safety, Intelektual, dan Profesional).
“SEP adalah pesan bagaimana menjaga wilayah Indonesia khususnya Kalimantan, dengan keamanan, pemikiran intelektual, dan profesionalisme. Ini kontribusi Pusaka untuk NKRI,” paparnya.
Pusaka berkomitmen mendukung ketahanan nasional tanpa mengabaikan kearifan lokal, serta siap bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah, termasuk dalam mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara. “Kami ingin Pusaka hadir dengan kontribusi pemikiran dan partisipasi nyata untuk Indonesia, khususnya Kalimantan,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur