Pengamat Politik sekaligus Tokoh Masyarakat Kaltim, Surpani Sulaiman menilai pola konflik global saat ini menunjukkan pergeseran bentuk peperangan.
Menurutnya, perang modern tidak lagi selalu diwujudkan melalui invasi militer terbuka, melainkan lewat perang proksi, sanksi ekonomi, serangan siber, disinformasi, serta perebutan sumber daya strategis seperti energi, pangan, dan teknologi.
“Pertanyaannya bagi Indonesia bukan semata apakah Perang Dunia Ketiga akan terjadi, tetapi sejauh mana kesiapan nasional menghadapi dampaknya,” ujar Surpani, Jumat (30/1/2026).
Ia menyebut setidaknya terdapat empat faktor utama yang berpotensi memicu konflik global berskala besar, yakni rivalitas kekuatan besar dunia, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, krisis rantai pasok global, serta berkembangnya perang non-konvensional berbasis siber dan informasi.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis melalui politik luar negeri bebas aktif dan peran diplomatik di berbagai forum internasional.
Namun demikian, ketergantungan pada impor pangan, energi, dan teknologi masih menjadi titik rawan yang perlu diantisipasi.
Jika konflik global meluas, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi berupa inflasi, kenaikan harga pangan dan energi, pelemahan nilai tukar, hingga risiko instabilitas sosial.
Untuk itu, Surpani menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan, kemandirian energi, keamanan siber, serta stabilitas internal.
Ia menegaskan, ketahanan nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat melalui kemandirian ekonomi, solidaritas sosial, dan kecerdasan menyikapi informasi.
“Indonesia harus bersiap dengan strategi matang, bukan ketakutan. Ketahanan internal yang kuat adalah kunci bertahan di tengah krisis global,” pungkasnya.
Editor: Erwin