Meski berdiri dengan konstruksi megah dan menelan anggaran daerah yang tidak sedikit, kesiapan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan dinilai masih jauh dari harapan.
Kritik tersebut mengemuka dalam rapat gabungan Komisi III dan Komisi IV DPRD Kaltim bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang digelar pekan lalu.
Dalam forum tersebut, para legislator mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran besar apabila belum diiringi dengan kesiapan layanan medis yang memadai bagi masyarakat.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menilai bahwa persoalan utama RS AMS II berakar pada perencanaan awal yang dinilai tidak matang.
Dia menyoroti ketiadaan fasilitas parkir yang representatif, padahal rumah sakit merupakan fasilitas publik dengan mobilitas tinggi.
Menurutnya, absennya lahan parkir mencerminkan lemahnya penyusunan masterplan sejak tahap awal pembangunan.
Selain itu, Andi juga mempertanyakan kesiapan sumber daya manusia kesehatan, terutama tenaga medis dan paramedis, yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Dia menilai pengembangan layanan unggulan seperti hemodialisa terkesan terburu-buru dan dipaksakan, sementara pelayanan kesehatan dasar belum sepenuhnya berjalan optimal.
“Seharusnya kebutuhan mendasar masyarakat dipenuhi lebih dulu sebelum mengejar layanan berteknologi tinggi,” tegasnya.
Kritik senada disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh. Ia menyoroti rencana penganggaran lanjutan untuk pengembangan RS AMS II yang disebut mencapai Rp98 miliar.
Abdulloh menilai, alokasi dana sebesar itu akan lebih bermanfaat apabila diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan, seperti penambahan dokter spesialis, penguatan tenaga kesehatan, serta pelengkapan alat medis yang menunjang operasional rumah sakit. Menurutnya, orientasi pembangunan rumah sakit seharusnya tidak berhenti pada aspek fisik semata.
Dia mengingatkan tujuan utama fasilitas kesehatan adalah memberikan layanan yang cepat, aman, dan berkualitas bagi masyarakat. “Yang dibutuhkan rakyat adalah pelayanan, bukan sekadar bangunan yang tampak megah,” ujarnya.
Editor: Erwin