Sekretaris Komisi II DPRD Kaltim, Nurhadi Saputra, menilai ketimpangan ini perlu segera diatasi melalui langkah konkret, khususnya di daerah pesisir Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Nurhadi meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim agar lebih serius dalam memperkuat pembangunan infrastruktur strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat pesisir.
Sektor kelautan dan energi harus menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan penghidupan nelayan serta penguatan ekonomi lokal. Satu usulan yang disampaikannya adalah pembangunan pelabuhan pendaratan ikan di Sangatta.
Fasilitas tersebut dinilai penting sebagai wujud pemerataan pembangunan sekaligus bentuk keadilan bagi masyarakat pesisir yang selama ini berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan laut.
Politisi PPP itu menegaskan peran nelayan dalam menjaga pasokan hasil laut belum didukung oleh infrastruktur yang memadai. Akibatnya, potensi ekonomi dari sektor kelautan belum bisa dimaksimalkan secara optimal. “Pemerintah sudah seharusnya menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada masyarakat pesisir. Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan bukan sekadar menghadirkan fasilitas, tetapi merupakan langkah penting untuk menciptakan keadilan ekonomi,” ujar Nurhadi, Rabu (28/1/2026).
Keberadaan pelabuhan tersebut akan berfungsi sebagai pusat distribusi dan hilirisasi hasil tangkapan laut. Selain itu fasilitas ini juga diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru serta mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah di wilayah pesisir Sangatta dan sekitarnya.
Selain infrastruktur pelabuhan, Nurhadi turut menyoroti persoalan ketersediaan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang kerap menjadi kendala bagi masyarakat di Sangatta dan Sangkulirang.
Dia menilai pasokan energi yang tidak stabil telah menghambat aktivitas ekonomi, terutama nelayan yang sangat bergantung pada BBM untuk melaut. “Kelangkaan BBM sudah menjadi keluhan rutin para nelayan. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap sektor kelautan masih belum sepenuhnya diwujudkan secara konkret. Karena itu, pembangunan SPBU khusus di wilayah pesisir harus menjadi prioritas,” jelasnya.
Wilayah pesisir tidak boleh terus-menerus berada dalam kondisi tertinggal. Kalau pemerintah daerah serius ingin memperkuat ketahanan pangan dan energi, maka perhatian terhadap pembangunan di Kutim harus ditingkatkan secara signifikan.
“Pesisir tidak boleh hanya menjadi daerah penyangga tanpa perhatian. Ketahanan pangan dan energi tidak akan terwujud tanpa pembangunan yang adil dan merata,” tutup Nurhadi.
Editor: Aspian Nur