Diketahui, pada Minggu (25/1/2026), Jembatan Mahulu kembali ditabrak kapal tongkang batu bara yang melintas di bawah jembatan. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan, mengingat jembatan tersebut sudah tiga kali ditabrak dalam rentang waktu berdekatan, sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR-PERA Kaltim, Muhran, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan langsung di lokasi kejadian untuk memastikan kondisi terkini jembatan. Dia mengatakan, untuk informasi awal terkait insiden tersebut pihaknya baru mengetahui setelah adanya pemberitaan media dan media sosial.
“Untuk sementara kita akan ke lokasi dulu untuk mengecek langsung kondisi dan keadaan jembatan,” ujar Muhran.
Dia menuturkan, usai mengetahui insiden tersebut PUPR Kaltim langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, di antaranya Polairud, Dinas Perhubungan, serta Satuan Lalu Lintas.
Selain itu, sebagai langkah awal, pihaknya juga mendorong percepatan evakuasi ponton yang menabrak jembatan.
Muhran menjelaskan, posisi kapal tongkang yang sempat melintang di antara fender dan pilar jembatan berpotensi menimbulkan tekanan akibat arus sungai yang cukup kuat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi stabilitas pilar jembatan apabila tidak segera ditangani.
“Hari ini kita turun bersama tim konsultan untuk melakukan pengecekan visual. Kita akan memastikan apakah pilar masih tegak lurus atau tidak, serta mengecek kondisi trotoar, expansion joint, dan parapet apakah masih rata,” ucapnya.
Selain pemeriksaan visual, Muhran menerangkan PUPR Kaltim juga membuka kemungkinan untuk melakukan pengujian menyeluruh terhadap struktur jembatan. Pengujian tersebut kata dia bisa berupa uji statis maupun dinamis, mengingat sebelumnya pengujian yang dilakukan baru sebatas uji dinamis.
“Ini sudah kejadian yang ketiga kalinya. Kita khawatir ada pengaruh benturan terhadap struktur, sehingga perlu kehati-hatian ekstra,” katanya.
Editor: Erwin