Ketiga persoalan tersebut disebut sebagai ancaman serius yang berkembang pesat seiring kemajuan teknologi digital.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menyebut fenomena tersebut sebagai “tiga wabah daring” karena penyebarannya yang masif serta dampak destruktif yang ditimbulkannya, baik secara fisik, ekonomi, maupun moral. Masing-masing ancaman memiliki dampak merusak yang berbeda, namun saling berkaitan.
Narkoba, kata dia, berpotensi merusak kesehatan dan fungsi tubuh. Judi daring menghancurkan kondisi keuangan serta perekonomian keluarga, sementara pornografi berdampak serius terhadap moral, akhlak, dan ketahanan rumah tangga.
Sebagai seorang dokter, Andi Satya juga memaparkan aspek ilmiah terkait kecanduan yang ditimbulkan oleh ketiga aktivitas tersebut.
Ia menjelaskan, narkoba, judi daring, dan pornografi berkaitan erat dengan dopamin, yakni zat kimia di otak yang berperan dalam menimbulkan rasa senang dan puas.
Dopamin, lanjutnya, sejatinya dilepaskan secara alami melalui aktivitas positif seperti berolahraga, menikmati makanan, mendengarkan musik, maupun aktivitas spiritual seperti mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Namun, masalah muncul ketika dopamin dipicu oleh rangsangan negatif.
“Rangsangan dari narkoba, alkohol, judi, dan pornografi memicu dopamin dalam jumlah besar. Rasa senangnya singkat, tetapi efek ketergantungannya sangat kuat dan berbahaya,” jelasnya, Rabu (14/1/2025).
Ia bahkan mengungkapkan penggunaan narkoba dapat meningkatkan produksi dopamin hingga lebih dari 500 persen sehingga membuat penggunanya cepat mengalami kecanduan.
Pola kecanduan serupa juga terjadi pada pelaku judi online maupun konsumen konten pornografi.
Lebih lanjut, Andi Satya menyoroti maraknya praktik judi online yang kini semakin mudah diakses oleh siapa saja. Judi online dinilai memiliki daya rusak yang tidak kalah berbahaya dibanding narkoba.
“Menang sekali ingin mengulang, kalah pun tetap penasaran. Banyak yang menyebut kecanduan judi online justru lebih sulit dipulihkan dibandingkan ketergantungan narkoba,” ujarnya.
Kemudahan akses digital, menurutnya, membuat penyebaran tri wabah online ini semakin cepat dan sulit dikendalikan, terutama di kalangan anak muda yang sangat akrab dengan teknologi.
Di akhir pernyataannya, Andi Satya mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga komunitas sosial untuk bersama-sama memperkuat upaya pencegahan.
Politisi Golkar itu menekankan pentingnya kewaspadaan, edukasi, serta kerja sama lintas sektor agar generasi muda mampu membentengi diri dan tidak terjerumus ke dalam jerat narkoba, judi online, maupun pornografi.
“Jangan pernah mencoba-coba. Pencegahan harus dilakukan sejak dini dan melibatkan semua pihak,” pungkasnya.
Editor: Erwin