Lemahnya penguasaan mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris menjadi temuan utama yang kini mendapat perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim.
Berdasarkan data rerata nilai mata pelajaran wajib tingkat provinsi, Kaltim mencatat skor Bahasa Indonesia sebesar 57,79. Namun, nilai tersebut tidak diikuti oleh capaian serupa pada Matematika yang hanya mencapai 36,37 dan Bahasa Inggris sebesar 25,91.
Perbedaan angka ini menandakan adanya ketimpangan kemampuan siswa, terutama pada aspek numerasi dan penguasaan bahasa asing.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti Masrokan, menilai hasil TKA tersebut sebagai sinyal kuat perlunya evaluasi mendalam terhadap sistem pendidikan daerah.
Ia menyebut, rendahnya capaian akademik tidak hanya terjadi pada satu jenjang pendidikan tertentu, melainkan hampir merata mulai dari sekolah dasar hingga tingkat menengah.
“Nilai Matematika dan Bahasa Inggris terlihat sangat rendah. Ini menjadi alarm bagi kita semua. Perlu dipertanyakan apakah sistem penilaian di sekolah selama ini benar-benar mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya,” kata Damayanti, Senin (12/1/2025).
Menurutnya, TKA justru memberikan gambaran objektif mengenai kemampuan riil peserta didik di lapangan. Hasil tersebut dinilai mampu membuka fakta yang selama ini mungkin tertutup oleh sistem penilaian internal sekolah yang cenderung administratif.
Oleh karena itu, Damayanti mendorong dilakukannya peninjauan ulang terhadap proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di setiap satuan pendidikan.
Evaluasi tersebut diharapkan mencakup metode pembelajaran, kualitas pengajar, hingga efektivitas kurikulum yang diterapkan.
Tak hanya menyoroti peran sekolah, Damayanti juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses pendidikan anak.
Dia menilai, sebagian besar waktu anak dihabiskan di luar lingkungan sekolah, sehingga keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan belajar, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir kritis.
“Ketika prestasi akademik menurun, jangan seluruh beban diarahkan ke sekolah. Pendidikan di lingkungan keluarga juga memegang peranan besar. Ini adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Selain itu, ia turut mengingatkan dampak perkembangan teknologi, khususnya penggunaan gawai secara berlebihan oleh anak-anak. Kebiasaan tersebut dinilai dapat mengurangi fokus belajar dan melemahkan kemampuan logika dasar yang seharusnya diasah sejak dini.
Damayanti berharap, hasil TKA di Kaltim dapat dijadikan landasan utama dalam penyusunan kebijakan dan program peningkatan mutu pendidikan ke depan.
Dengan langkah evaluasi yang tepat, Politisi PKB itu optimistis kualitas sumber daya manusia di Kaltim dapat ditingkatkan agar mampu bersaing di tingkat nasional.
Editor: Erwin