Paparan tersebut disampaikan dalam forum Anugerah Kebudayaan PWI Pusat-HPN 2026 yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta.
Dalam forum tersebut, Andi Harun tampil sebagai peserta nomor urut dua dari sepuluh kepala daerah yang diundang mempresentasikan kebijakan kebudayaan unggulan. Paparan disambut diskusi mendalam bersama dewan juri lintas disiplin seni, budaya, dan jurnalistik nasional.
Wali Kota menegaskan bahwa Sarung Samarinda saat ini berada pada persimpangan antara pelestarian dan tantangan modernisasi.
Menurutnya, kebijakan budaya tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus mampu menghidupkan tradisi agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Budaya harus hidup, berkelanjutan, dan memberi nilai ekonomi. Pelestarian membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keberpihakan kebijakan,” ujarnya.
Pemkot Samarinda, kata dia, telah mengubah paradigma pelestarian dengan menempatkan penenun sebagai subjek utama kebudayaan. Intervensi pemerintah dilakukan melalui penguatan anggaran kebudayaan, pembinaan UMKM, serta perlindungan terhadap proses produksi tradisional.
Upaya tersebut diperkuat dengan integrasi motif Sarung Samarinda ke dalam ruang publik kota. Revitalisasi kawasan Citra Niaga hingga pembangunan Teras Samarinda mengadopsi ornamen geometris khas tenun, mulai dari fasad bangunan, trotoar, hingga interior ruang resmi pemerintahan.
Dari sisi ekonomi, pemerintah menerapkan sistem beli putus terhadap produk tenun lokal. Kain hasil penenun dijadikan suvenir resmi daerah dan dipasarkan melalui platform digital, sebagai upaya menjaga sirkulasi ekonomi perajin.
Dalam sesi tanya jawab, dewan juri menyoroti keberlanjutan bahan baku pewarna alami yang bergantung pada kelestarian hutan. Menanggapi hal itu, Andi Harun mengakui adanya tantangan dari aktivitas tambang dan perkebunan, namun Pemkot telah merespons dengan pembangunan Hutan Kota dan pengembangan Hutan Pendidikan untuk melindungi sumber daya alam penunjang tradisi tenun.
Isu pengetahuan tradisional juga menjadi perhatian juri. Pemerintah, menurut Wali Kota, berkomitmen menjaga orisinalitas Sarung Samarinda dengan mempertahankan sekitar 99 persen proses penenunan secara manual, sekaligus menggali kembali filosofi dan sejarah motif geometris sebagai bagian dari kekayaan intelektual budaya.
Terkait regenerasi, Andi Harun menyebut saat ini terdapat sekitar 120 penenun aktif di Kampung Tenun Samarinda Seberang. “Meski masih didominasi generasi tua, keterlibatan generasi muda telah mencapai 30 persen dalam tiga tahun terakhir berkat program edukasi dan insentif ekonomi,” ujarnya.
Saran budayawan Sudjiwo Tejo agar sarung digunakan lebih luas dalam kehidupan sehari-hari juga mendapat respons positif. Andi Harun menyatakan penggunaan sarung telah diwajibkan dalam kegiatan resmi, dan terbuka untuk merumuskan kebijakan yang mendorong sarung menjadi bagian dari gaya hidup warga Samarinda.
Paparan Wali Kota didukung oleh tim lintas perangkat daerah dan komunitas budaya, terdiri dari unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, PWI Kaltim, Diskominfo, serta perwakilan penenun Sarung Samarinda.
Editor: Erwin