Fenomena ini dinilai mencerminkan lemahnya kendali negara atas ruang publik strategis yang seharusnya dijamin aman bagi seluruh warga.
Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Kota Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPK KNPI) Loa Janan Muhammad Hasbi menilai sunmori telah bertransformasi menjadi praktik rutin yang menggerus rasa aman masyarakat. Bukan hanya karena potensi kecelakaan, tetapi juga karena absennya kehadiran negara dalam mengatur dan menegakkan aturan secara konsisten.
“Ketika aktivitas berisiko tinggi berlangsung terbuka, berulang dan dapat diprediksi namun tidak dikendalikan, maka masalahnya bukan lagi dipelaku, melainkan pada sistem pengawasan negara yang melemah,” papar Hasbi Senin (5/1/2026).
Jalan poros Samarinda–Balikpapan merupakan jalur vital dengan mobilitas tinggi dan fungsi strategis. Ketika jalur tersebut dikuasai oleh aktivitas yang membahayakan keselamatan umum, maka negara dinilai gagal menjalankan fungsi dasarnya sebagai penjamin keamanan publik.
Persoalan sunmori tidak bisa terus dipandang sebagai insiden sporadis atau sekadar urusan komunitas motor. Ia menyebut, pembiaran yang berulang akan menciptakan preseden buruk, dimana pelanggaran terbuka dianggap lumrah dan tidak berkonsekuensi.
“Jika ruang publik dibiarkan dikuasai oleh kepentingan segelintir kelompok, maka hukum kehilangan wibawanya. Ini berbahaya, karena lama-kelamaan masyarakat akan menilai aturan bisa dinegosiasikan,” ucapnya.
Pola penanganan yang selama ini cenderung reaktif juga jadi sorotan. Pendekatan yang hanya muncul setelah kecelakaan terjadi justru memperlihatkan kegagalan dalam pencegahan.
“Negara seharusnya hadir sebelum risiko berubah menjadi korban. Pencegahan adalah inti dari keselamatan publik, bukan sekadar penanganan pascakejadian,” tegas Hasbi.
DPK KNPI Loa Janan mendorong aparat kepolisian untuk memulihkan kembali otoritas negara di ruang publik melalui pengawasan rutin, penegakan aturan yang konsisten, serta kebijakan yang jelas terhadap aktivitas berkendara berisiko di jalur umum.
“Keselamatan warga tidak boleh bergantung pada keberuntungan. Ketika negara absen, yang muncul adalah ketakutan. Dan itu tidak boleh dibiarkan menjadi hal yang normal,” tutup Hasbi.
Editor: Aspian Nur