Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, pendekatan pengelolaan sampah pada 2026 berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Seluruh lini digerakkan secara bersamaan, mulai dari penanganan, pengurangan, hingga pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun.
Langkah tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat, terutama terkait pemilahan sampah sejak dari sumber atau rumah.
“Perubahan pola perilaku menjadi faktor penentu agar pengelolaan sampah dapat berjalan berkelanjutan,” kata Taufiq.
Meski demikian, ia menilai bahwa tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan jumlah timbulan sampah, tetapi juga akurasi pencatatan.
Sistem yang diterapkan kementerian kini mewajibkan pencatatan secara riil dan terukur, bukan lagi berbasis estimasi.
“Ke depan data harus benar-benar bersumber dari pencatatan lapangan. Organik dan anorganik dicatat terpisah, lalu direkap. Itu yang akan mulai kami terapkan,” ujarnya.
Penerapan sistem tersebut mulai dipraktikkan sejak akhir tahun 2025 dan akan diperkuat pada awal 2026. Namun, kondisi lapangan masih menjadi kendala karena sebagian besar Tempat Penampungan Sementara (TPS) belum dilengkapi fasilitas pemilahan.
Seluruh kecamatan telah dikumpulkan untuk membangun komitmen bersama, dengan kesepakatan setiap wilayah memulai pemilahan dari satu titik TPS sebagai percontohan.
“Kalau hanya pemerintah yang bergerak, ini berat. Harus ada kesadaran dari masyarakat. Pemerintah nanti tinggal memfasilitasi,” jelasnya.
Program ini terus dikawal melalui sosialisasi yang telah berjalan, termasuk kepada pengawas dan koordinator lapangan. DLH juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari Probebaya, RT se Kota Samarinda, akademisi, hingga tim ahli pembangunan wilayah untuk melakukan edukasi pemilahan sampah rumah tangga dari rumah ke rumah (door to door).
“2026 ini akan kita mulai, dan sosialisasi sudah berjalan termasuk kepada pengawas dan koordinator lapangan,” pungkasnya.
Editor: Erwin