Dia menilai, tanpa inovasi, budaya lokal berisiko tertinggal dan kehilangan daya tarik di tengah pesatnya arus digitalisasi.
Fadly menekankan bahwa pelestarian budaya tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial atau pameran simbolik semata.
Menurutnya, kebudayaan perlu dikembangkan secara kreatif agar mampu memberikan nilai tambah, termasuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Selama ini budaya sering dianggap sesuatu yang kaku dan hanya dipajang dalam acara formal,” ujarnya pada Minggu (4/1/2025).
“Padahal, jika dipadukan dengan teknologi digital, budaya bisa menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan,” sebutnya lagi.
Dirinya menjelaskan kemajuan platform digital memberikan ruang luas bagi budaya daerah untuk dikenal lebih jauh. Tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh generasi muda dan publik internasional.
Digitalisasi, lanjutnya, dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat identitas budaya sekaligus memperluas jangkauan pasar ekonomi kreatif. Transformasi budaya berbasis teknologi, menurut Fadly, mencakup berbagai bentuk.
Seperti pertunjukan seni virtual, penjualan produk kerajinan melalui marketplace daring, hingga pembuatan konten edukasi budaya dalam format digital. Inisiatif tersebut diyakini mampu membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru.
“Integrasi antara budaya dan teknologi merupakan pilihan strategis agar ekonomi kreatif lokal dapat berkembang seiring perubahan zaman,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa upaya digitalisasi budaya tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah.
Politisi Gerindra itu menilai pemerintah memiliki peran penting dalam menyediakan infrastruktur digital yang memadai serta pelatihan teknologi bagi seniman dan pelaku budaya di daerah.
“Para pelaku seni perlu dibekali kemampuan agar mampu beradaptasi dan bersaing di ruang digital,” tambahnya.
Selain itu, Fadly juga mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas seni, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga sektor pariwisata.
Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjadikan budaya sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan dan memiliki daya saing global.
“Budaya harus dipandang sebagai aset produktif yang mampu menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi daerah dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Editor: Erwin