Terkait hal itu, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut pentingnya menjaga kerukunan umat beragama sebagai energi kebangsaan.
Hal itu disampaikan Seno saat mengikuti upacara peringatan HAB ke-80 Kemenag di halaman Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Kaltim di Jalan Basuki Rahmat, Samarinda.
Dihadapan para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag Kaltim, Seno mengajak seluruh jajaran untuk terus bersyukur atas eksistensi lembaga tersebut yang mampu melintasi perjalanan sejarah bangsa, menghadapi berbagai tantangan, serta beradaptasi dengan dinamika zaman yang terus berubah.
“Tahun ini Hari Amal Bakti mengusung tema Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju. Tema ini menegaskan kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan energi kebangsaan yang produktif,” ujar Seno.
Kerukunan umat beragama terwujud melalui sinergi nyata, salah satunya lewat berbagai program sosial keagamaan seperti infak, sedekah, diakonia, dana punia, dana paramita hingga dana kebajikan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Seno menyoroti peran Kementerian Agama dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag, mulai dari madrasah hingga perguruan tinggi keagamaan, dinilai mampu bersaing bahkan melampaui standar pendidikan lainnya.
"Selain itu, program Desa Sadar Kerukunan merupakan langkah konkret memindahkan wacana kerukunan dari ruang seminar ke praktik nyata di tengah masyarakat," ucapnya.
Setiap kebijakan Kemenag harus menghadirkan manfaat nyata, bukan sekadar urusan administrasi dan birokrasi. Apalagi dalam menghadapi tantangan global penting untuk menengok kembali sejarah peradaban.
"Ketika agama menjadi sumber pencerahan dunia melalui pusat keilmuan seperti Baitul Hikmah pada abad pertengahan," jelas Seno
Tantangan besar saat ini adalah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tengah era volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Karena itu, Kementerian Agama diharapkan Seno tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mewarnai perkembangan AI dengan nilai-nilai keagamaan yang moderat dan berkeadaban.
“Algoritma masa depan tidak boleh hampa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus dikawal agar menjadi alat pemersatu, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” tutup Seno.
Editor: Aspian Nur