Aksi yang diikuti sekitar 2.000 orang ini berlangsung ricuh setelah beberapa kali terjadi lemparan batu dan bom Molotov diarahkan ke pihak kepolisian yang tengah melakukan pengamanan.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, mengonfirmasi bahwa dua anggota polisi mengalami luka akibat insiden tersebut. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Hermina untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Dua anggota kami terkena lemparan batu dan saat ini sedang dalam proses perawatan di RS Hermina. Tadi sempat ada satu anggota yang tidak sadarkan diri, tapi mudah-mudahan setelah pemeriksaan kondisinya membaik dan bisa kembali beraktivitas,” jelas Hendri kepada awak media.
Lanjutnya, ketegangan memuncak ketika aparat berupaya membubarkan massa aksi yang mulai anarkistis bahkan pihak aparat mendapatkan lemparan bom molotov.
Selain itu, Massa aksi mencoba melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian untuk mundur dan terjadi drama tarik-ulur dengan mahasiswa yang berada di garis depan.
“Kami sudah berusaha melakukan pendekatan persuasif, namun situasi sempat tidak terkendali. Ada beberapa upaya dari massa yang memancing kericuhan, termasuk melempar bom Molotov,” tambah Hendri.
Meskipun demikian, pihak kepolisian tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Pemeriksaan kondisi dua anggota yang terluka juga masih dilakukan untuk memastikan penanganan medis berjalan optimal.
Editor: Erwin