Massa yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, seperti masyarakat sipil, pengemudi ojek daring, mahasiswa, hingga masyarakat adat.
Mahasiswa tiba belakangan, sehingga aksi lebih dahulu dimulai oleh organisasi masyarakat dan pengemudi ojek daring.
Berdasarkan pantauan media ini, banyak peserta aksi yang mengenakan pakaian berwarna hitam dan menggunakan masker atau penutup wajah. Beberapa di antaranya terlihat melempar benda ke dalam area DPRD, memicu ketegangan.
Mereka tampak sengaja memancing situasi agar memanas. Meskipun sudah dilarang, tindakan provokatif itu tetap berlanjut. Kendati demikian, secara umum aksi masih berlangsung cukup terkendali.
Petugas yang berjaga di balik pagar tetap siaga tanpa melakukan perlawanan. Imbauan dari aparat agar massa tidak melempar benda terus disuarakan melalui pengeras suara.
Namun, arahan itu tidak direspons secara langsung. Sebaliknya, para demonstran justru menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya berulang kali sebagai bentuk simbolik perlawanan.
Dari atas mobil komando, terdengar seruan agar seluruh massa aksi tetap satu suara. Meski begitu, sempat terjadi insiden ketika dua orang terlihat memanjat pagar. Aksi tersebut mengundang reaksi teriakan dari massa lain.
Bukan tanpa alasan, massa khawatir keduanya terjatuh ke dalam area Kompleks DPRD Kaltim dan kemudian diamankan aparat.
Pengeras suara (toa) dioper dari satu orang ke orang lainnya. Perwakilan mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh adat bergantian menyampaikan orasi mereka dari atas mobil komando.
Seorang ibu yang namanya tidak diketahui juga naik ke mobil komando dan menyampaikan keresahan serta dukungannya terhadap aksi yang tengah berlangsung.
“Bapak-bapak DPRD, saya minta temui anak-anak disini pak, saya tidak terima. Ada hak kami juga pak di dalam itu,” teriak ibu-ibu dari atas mobil komando yang menggunakan baju pink itu.
Perwakilan driver ojol juga tak kalah semangat. Salah satu perwakilan mereka naik ke atas mobil komando.
Tak hanya mendukung aksi, dia juga menyuarakan insiden yang terjadi pada kawan satu profesi mereka di Jakarta.
Satu akademisi naik ke mobil komando, Herdiansyah Hamzah, atau yang akrab disapa ‘Bang Castro’ itu juga turut menyuarakan keresahan masyarakat.
“Gerbang yang ditutup rapat hari ini, ada uang kami di sana. Yang ada di dalam sana, dibayar dari hasil pajak-pajak kita,” tegas Castro.
Usai banyaknya yang menyampaikan aspirasi. Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud datang menemui para demonstran.
Dia didampingi anggota DPRD Kaltim, Subandi, dan Abdul Giaz naik ke atas mobil komando untuk memberikan pernyataan.
Suara toa yang sangat kecil, ditambah riuh suara demonstran, membuat pernyataannya nyaris tak tersengar oleh media ini.
“Kami akan menindaklanjuti,” tegasnya.
Diskusi terjadi diatas mobil komando, terlihat beberapa pimpinan organisasi bernegosiasi dengan para anggota dewan.
Seakan tak mendapatkan hasil yang memuaskan, anggota dewan yang ada kembali masuk ke markas dan diteriaki oleh para demonstran.
Hingga berita ini diturunkan, massa aksi sudah mulai membubarkan diri satu persatu. Namun, jumlah yang tersisa di lokasi masih cukup banyak, mengakibatkan polisi terpaksa menembakkan gas air mata.
Berbagai isu krusial juga diangkat, mulai dari penolakan RUU KUHP, desakkan pengesahan RUU Perampasan Aset, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), hingga RUU Masyarakat Adat uang selama ini dinilai jalan ditempat.
Editor: Erwin