Terkait hal itu, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim Baba pun menyatakan dukungan penuhnya dan menyebut langkah tersebut merupakan solusi strategis bagi kebutuhan mendesak akan tenaga medis hewan di daerah.
“Ini bukan sekadar membuka jurusan baru, tapi bentuk investasi jangka panjang demi menjamin ketahanan pangan, kesehatan hewan, serta penguatan sektor peternakan di Kaltim,” ujar Baba kepada Korankaltim.com Jumat (8/8/2025).
Dukungan dari DPRD bukan hanya formalitas. Komisi IV siap mengambil peran aktif dalam memfasilitasi proses administrasi dan menjembatani koordinasi antar lembaga agar pembukaan program studi tersebut bisa segera terealisasi.
Kaltim memiliki potensi besar dalam bidang peternakan dan keanekaragaman hayati, namun kekurangan tenaga profesional di bidang kedokteran hewan masih menjadi kendala utama.
“Unmul sebenarnya sudah punya pondasi kuat, baik dari segi infrastruktur maupun sumber daya dosen. Tinggal dibutuhkan dorongan lebih lanjut dan sinergi dari berbagai pihak,” jelas politisi dari PDI-Perjuangan itu.
Baba juga menekankan pentingnya pendidikan kedokteran hewan tidak hanya untuk peningkatan kapasitas peternakan, tetapi juga dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis dan memastikan keamanan pangan asal hewan.
Diharapkan agar kurikulum yang dirancang mampu menyesuaikan dengan kondisi lokal serta melibatkan kolaborasi aktif dengan industri, pemerintah, dan lembaga terkait.
Pendekatan berbasis praktik dan riset dinilainya akan memperkuat daya saing lulusan di masa depan.
“Saya tidak ingin ini hanya menjadi wacana. Targetnya jelas, Unmul harus bisa menerima mahasiswa baru program kedokteran hewan mulai tahun ajaran 2026,” tegas Baba.
Pembangunan sumber daya manusia menurutnya adalah kunci kemajuan daerah. “Kalau SDM maju, sektor-sektor lainnya akan ikut berkembang. Pendidikan adalah pondasi utama pembangunan jangka panjang,” Baba memungkasi.
Editor: Aspian Nur