Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono, menegaskan perlunya penyelidikan komprehensif terhadap insiden tersebut.
Sapto menuntut transparansi atas penyebab utama kebakaran serta mempertanyakan standar keamanan gedung rumah sakit, khususnya terkait sistem deteksi dini seperti alarm kebakaran dan detektor asap.
“Langkah pertama tentu mencari tahu penyebabnya. Selain itu, kita harus tahu apakah kebakaran terjadi di gedung lama atau baru,” ujarnya kepada Korankalti.com, Minggu (3/8/2025).
Apabila kebakaran berasal dari gedung lama, Sapto menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem perawatan dan kesiapan mitigasi bencana.
Ia meragukan apakah peralatan keamanan, termasuk alarm dan sensor asap, telah diperbarui atau sekadar dibiarkan tanpa pemeliharaan rutin.
“Gedung lama bukan berarti boleh diabaikan. Pemeliharaan itu wajib. Kalau tidak, artinya ada yang perlu diperiksa lebih lanjut siapa penanggung jawabnya, siapa yang punya kewenangan?” tandasnya.
Sebagai bagian dari Komisi II yang memiliki tugas pengawasan anggaran, Sapto juga berencana memanggil seluruh rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) untuk melakukan klarifikasi anggaran pemeliharaan dan penggunaannya.
“Jangan-jangan dana maintenance tersedia tapi tidak digunakan semestinya. Ini penting untuk kepentingan pelayanan masyarakat,” kata dia.
Sapto juga menolak penyebab kebakaran disimpulkan hanya sebagai korsleting listrik tanpa investigasi ilmiah. Ia menilai, jika itu benar, maka ada unsur kelalaian serius dalam manajemen fasilitas.
“Sebagai orang yang berlatar belakang K3, saya cukup paham bagaimana seharusnya manajemen risiko diterapkan, khususnya dalam mencegah kebakaran,” tegas Sapto.
Ia menutup pernyataannya dengan meminta semua pihak agar berhati-hati dalam menyampaikan kesimpulan terkait penyebab kebakaran.
“Pernyataan harus berbasis ilmu dan data. Bukan sekadar spekulasi,” pungkasnya.
Editor: Erwin