Chelda Yuliana, M.Pd, Ketua K3S Samarinda Ilir yang juga Kepala Sekolah SDN 004 Samarinda Ilir kepada Korankaltim.com disela kegiatan siang tadi menjelaskan, guru yang mengikuti kegiatan ini berasal dari guru kelas rendah, yaitu kelas 1, 2 dan 3.
yang mengikuti kegiatan.
“Peserta yang hadir termasuk kepala sekolah untuk mendampingi sampai selesai untuk memberikan semangat kepada para guru,” ujar Chelda.
Saat ini menurut Chelda sedang digencarkan gerakan literasi yang berada di dunia pendidikan terutama di di sekolah-sekolah. “Dalam mendongeng perlu membaca, tapi tidak sekedar membaca, namun membaca penuh makna untuk mengetahui karakter tokoh di dalamnya, alur cerita dan sudut pandang yang cerita tersebut. Dari situlah guru bisa bercerita dengan komunikasi lancar, percaya diri, dan belajar body language untuk meragakan peranan tokoh. Harapannya tidak hanya guru tapi juga siswa bisa bercerita atau mendongeng,” paparnya.
Diharapkan dari kegiatan mendongeng untuk guru ini, sebagai salah satu media pembelajaran di kelas sehingga tidak lagi seperti dulu, membosankan karena hanya metode ceramah yang selalu mendengar guru mengajar.
“Lewat dongeng dari guru siswa diajak berfantasi menuju alam imajinasi yang penuh dengan pengetahuan baru, sehingga dapat merangsang daya imajinasi dan kreativitas siswa hingga akhirnya membuat mereka bisa berkomunikasi produktif dan percaya diri,” jelas Chelda.
Lewat metode mendongeng pula akan ada ikatan batin antara guru dan siswa baik secara emosional maupun sosialnya.
Dari mendongeng guru dapat mentransfer nilai-nilai positif, pengembangan budaya karakter yang nantinya menjadi profil pelajar pancasila.
“Dengan begitu visi dan misi Kemendikbud Nadiem Makariem bisa terwujud. Apalagi dengan kurkulum merdeka, guru harus jadi penggerak, leader bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi siswa lewat keterampilan berbicara dan literasi yang bernilai Pancasila,” sebut Chelda.
Chelda berharap pelatihan ini bisa berkelanjutan, sehinggadi sekolah ada program lanjutan seperti lomba mendongeng untuk siswa dan guru “Kalau sekarang tingkat kecamatan, mungkin bisa dipersempit menjadi tingkat sekolah. Nantinya Bunda Setiawati bisa melakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap program yang sudah berjalan karena terus terang tidak mudah untuk jadi seorang pendongeng,” ujarnya.
Terpisah, Setiawati menjelaskan kalau materi yang diberikan antara lain apa itu mendongeng, mengapa harus mendongeng juga persiapan dalam mendongeng. “Materinya cukup simpel tapi dalam prakteknya tentu tidak mudah, diperlukan keterampilan dan rasa percaya diri,” sebut Setiawati.
Editor: Aspian Nur