Hari mengungkapkan, kondisi kaum milenial saat ini telah cukup baik dalam memahami dinamika dalam berdemokrasi. Karenanya Bawaslu berupaya agar para milenial yang kemudian menjadi buah dari bonus demografi memiliki kekuatan untuk menentukan nasib negara dikemudian hari.
"Mereka (kaum milenial) bukan hanya karena persoalan mereka muda tapi ada kesadaran yang bisa mereka bawa untuk menjaga kualitas Pemilu," kata Hari.
Selama ini pelaksanaan Pemilu cenderung dimaknai dengan sentimen soal ras, agama, serta politisasi sara. Sehingga saat bonus demografi nanti dengan banyaknya kaum muda transaksi Pemilu menjadi transaksi pikiran. "Anak muda bisa memeriksa pikiran parpol, calon yang disediakan oleh parpol," papar Hari.
Apabila isu yang sedang bergeming saat ini mengenai proporsional tertutup maupun terbuka pun, kaum milenial mengetahui dengan baik bahkan memahami implikasi dari penerapannya kelak.
"Ketika mahasiswa bisa memeriksa pikiran parpol dan misal nantinya ternyata proporsional diputuskan untuk diterapkan maka parpol bisa menyajikan calon-calon yang nantinya akan duduk untuk dapat memaknai kepentingan publik," ungkap Hari.
"Karena sejatinya demokrasi melahirkan kepentingan yang akan menggunakan kewenangannya untuk mewujudkan tujuan negara. Memajukkan kesejahteraan umum mencerdaskan bangsa," ucapnya.
Penulis : Faishal Ays
Editor: Aspian Nur