Atas penarikan dirinya tersebut, Emir Moeis meminta maaf kepada masyarakat Kaltim. “Biarpun batal, saya akan tetap memberikan kontribusi untuk Kaltim, baik dengan pemikiran maupun dengan kerja-kerja yang nyata di tengah masyarakat, sebagaimana selama ini telah kita lakukan bersama. Kita harus tetap berupaya dan bekerja untuk memajukan daerah kita, dengan berbagai kemampuan dan keahlian yang kita miliki di berbagai bidang dan lewat berbagai cara,” tuturnya.
Emir memang putra Kaltim. Ia anak pertama dari Inche Abdoel Moeis, Gubernur Pertama Provinsi Kaltim, yang kala itu bernama Swatantra Tingkat I Kaltim.
Ia merasa terpanggil untuk menjadi anggota DPD karena melihat kondisi Kaltim yang semakin memprihatinkan selama belasan tahun belakangan ini. Tambahan pula, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kemudian menugaskan Emir untuk berkiprah di DPD RI, menyuarakan kepentingan masyarakat Kaltim.
“Selain karena memang saya sebagai putra Kaltim merasa terpanggil untuk ikut membenahi Kaltim, saya maju sebagai anggota DPD RI karena memang ada penugasan dari Ibu Mega,” kata Emir.
Penarikan diri Emir sebagai bakal calon anggota DPD RI juga terkait dengan kiprahnya di PDI Perjuangan. PDI Perjuangan meminta Emir untuk terlibat langsung dalam upaya memenangkan Pemilihan Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden pada 2019 mendatang.
“Sekali lagi, saya memohon maaf kepada masyarakat Kaltim. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan ikhlas masyarakat Kaltim, yang telah menyerahkan fotokopi KTP-nya. Terima kasih juga untuk kawan-kawan di Kaltim yang telah bekerja keras membantu saya untuk menjadi wakil masyarakat Kaltim di DPD. Kita akan tetap bersama-sama bekerja memajukan daerah kita dan juga secara luas ikut membangun bangsa dan negara ini dengan berbagai cara dan kemampuan kita. Mengabdi dan bekerja untuk bangsa dan negara bisa kita lakukan lewat bermacam cara,”tandasnya. (sab)