“Selama saya mendampingi pak Nusyirwan, dia suka makan nasi kuning. Makannya sangat kuat kalau makan nasi kuning, hampir tak pernah menolak kalau ditawarti nasi kuning,” kata Ayub, Rabu (28/2) kemarin.
Sebagai politisi muda, Ayub memang kalah senior dengan alm Nusyirwan. Nasehat sering terucap kepada Ayub selama perjalanan. Terkadang diskusi juga kerap dilakukan. Itu juga yang menjadi
kesan mendalam selama bersama Nusyirwan. Hubungan keduanya di dunia politik sudah bisa diibaratkan anak dan bapak.“Pak Nus pernah bilang sama saya, dinda apapun yang saya komunikasikan ke kamu dan saya telpon ke kamu, itu adalah salah satu bentuk orang tua memberikan saran dan masukan kepada anaknya,” kata Ayub menirukan suara pak Nus.
Tidak hanya menasehati, Nusyirwan jika sering meminta masukan saat di lapangan untuk melakukan sosilisasi kemasyarakat.
“Karena pak Nus kadang di lapangan menghadapi situasi yang harus menuntut dia untuk mengambil kebijakan, yang kemudian tidak sesuai dengan prosedur. Dia selalu Whatsapp aku sebagai ketua tim, untuk mememilih mana yang terbaik untuk dijalankan,” ujarnya.
Sebelum meninggal, Ayub pernah di dipesani pak Nus untuk membuat ucapan hari lahir Kota Balikpapan, padahal waktu masih lama.
“Beliau pesan ke saya, dinda tolong dong buatkan ucapan hari lahir Kota Balikpapan. Padahal itu masih lama waktunya. Kalau sekarang saya buatkan kanda, nga kelamaan kah, kata dia oh iya. Kamu atur aja yang ritme waktunya,” kenang Ayub.
Sebelum meninggal, Ayub merasakan penyesalan ketika mengetahui pak Nus sakit, dia hanya menyarankan untuk pak Nus istrahat.
“Yang membuat saya menyesal, saya tidak memaksa pak Nus untuk istirahat. Saya cuma menyarankan dan tidak memaksa,” kenang Ayub lagi. (sab)