“Ridwan Kamil yang mengulur–ulur waktu mengumumkan cawagub mendapat sorotan para kiai. Terlebih ada kemungkinan Ridwan Kamil mengabaikan rekomendasi para tokoh Jabar,” kata Rasta Wiguna, Selasa (19/12).
Hasil telaah tim pansel atas para calon pendamping Ridwan Kamil yang dilakukan Minggu, 17 Desember 2017, menempatkan politisi PKB, Maman Imanulhaq di posisi puncak diikuti politisi NasDem, Saan Mustopa dan politisi PPP, Uu Ruzhanul Ulum.
Pansel bentukan Ridwan Kamil terdiri dari 10 tokoh Jabar, dikomandani oleh mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Erry Riyana Hardjapamekas. Anggota Pansel antara lain, Tjetje Padmadinata, Betti Alisjahbana, dan Aat Soeratin.
Namun Ridwan Kamil tak segera menentukan pilihan meski sudah mendapat rekomendsai dari para tokoh Jabar. Menurut Rasta Wiguna hal itu membuat para kiai marah.
“PKB sangat menghormati suara para kiai. PKB siap menarik dukungan untuk Ridwan Kamil jika ia tak mengindahkan rekomendasi para tokoh Jabar,” ujarnya.
Betty Alisjahbana mengakui menjadi bagian dari tim pansel. Tapi dia tak mau mengungkap hasil kerja tim. Menurut dia, itu bukan konsumsi publik.
“Saya tidak bisa komentar,” singkat dia saat dikonfirmasi merdeka.com.
Sebelumnya, Partai Golkar telah mencabut sokongan bagi Ridwan Kamil. Namun Ridwan Kamil masih didukung tiga partai yakni NasDem, PPP dan PKB, dengan total 21 kursi DPRD Jabar.
Tetapi jika PKB, yang punya tujuh kursi DPRD, mencabut dukunganya, maka langkah Ridwan Kamil ke Pilgub Jabar 2018 bakal sulit. Ia harus mencari partai pendukung baru untuk mengenapi syarat minimal 20 kursi DPRD Jabar.
Persoalan bertambah pelik saat PPP juga mengancam cabut dukungan. Alasannya sama, jika nantinya Emil tak memilih kader PPP yang juga Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum. (mdk)