Pihak sekolah dan Komite sepakat untuk melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dengan tetap mematuhi peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat.
Kepala SMAN 2 Tenggarong, Suja’i, mengatakan jelang PTM, pihak sekolah sudah mempersiapkan kurikulum yang digunakan dalam kondisi khusus ini. “Rombongan belajar nantinya dibagi menjadi dua shift, yakni pagi dan siang. Selain itu waktu istirahat juga ditiadakan,” katanya saat dikonfirmasi korankaltim.com, Minggu (6/6/2021).
Hal lainnya yang dipersiapkan, pihak sekolah melakukan pengadaan alat protokol kesehatan seperti masker, handanitizer, sabun hingga sarana fisik lainnya. Tenaga pendidik dan staf sekolah juga seluruhnya sudah divaksin untuk memberikan rasa aman. “Kami juga mempersiapkan ruang belajar yang nantinya akan disemprot disinfektan setiap kali pergantian shift,” jelasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga memberikan opsi bagi siswa atau orangtua siswa yang masih khawatir untuk melepas anaknya mengikuti PTM. “Ada pilihan yang kami tawarkan nantinya. “Bisa tetap belajar secara online dari rumah atau belajar di sekolah tapi tidak masuk dalam kelas, nanti kami siapkan WiFi di lingkungan sekolah,” katanya.
Ketua Komite Sekolah, Suid Saidi mengatakan sepakat dengan pelaksanaan PTM, namun dengan catatan penerapan protokol kesehatan harus menjadi perhatian utama. “Kalau nantinya ada instruksi Gubernur soal PTM, SMAN 2 Tenggarong sudah siap,” katanya.
Ia mengatakan PTM ini dilaksanakan harus tanpa paksaan, bagi siswa yang tidak ingin mengikuti PTM maka bisa memilih opsi lainnya. “Artinya fleksibel saja, kalau masih khawatir dengan penularan covid di sekolah, bisa memilih opsi lainnya,” katanya.
Sementara itu, Sarkowi V Zahry mengungkapkan belajar secara online dari rumah memang sering menjadi kendala, mulai dari jaringan yang sering gangguan, hingga siswa harus mengisi paket internet sendiri. “Memang idealnya PTM harus dilaksanakan tapi dengan catatan protokol kesehatan harus diterapkan dengan ketat,” katanya.
Menurutnya berdasarkan hasil kuisioner yang disebarkan ke orang tua siswa, hampir 80 persen setuju dengan pelaksanaan PTM. “Pihak sekolah bersama komite sekolah akan memberikan pemahaman kepada orangtua peserta didik bahwa kalau nanti dilaksanakan PTM , maka penerapan protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Orang tua harus memahami agar bersama-sama mengontrol para peserta didik selama proses pembelajaran,” katanya.
Penulis : Muhammad Heriyansah
Editor: Aspian Nur