“Dulu muridnya banyak, karena di kawasan itu ada berdiri perusahaan-perusahaan besar, namun karena tutup dan banyak orang tua mereka berpindah mencari pekerjaan baru ya akhirnya lambat laun muridnya berkurang,” ungkapnya kepada Korankaltim.com, Rabu (20/1/2021).
Tulus membeberkan, kebijakan merger atau penggabungan murid yang sekolahnya hanya berjumlah sedikit ke sekolah yang memiliki jumlah murid sesuai standar, tidak relevan dilakukan di Kukar, karena terkendala akses jarak tempuh yang cukup jauh.
“Dengan kondisi jarak tempuh ke sekolah terdekat masih belum memenuhi SPM (standar pelayanan minimal), untuk SD itu minimal 3,5 kilometer harus ada sekolah, sementara kita di sini masih jauh dari itu,” bebernya.
Pertimbangan lainnya kenapa tetap diberlakukan kegiatan belajar mengajar dan berdirinya suatu sekolah meskipun muridnya sedikit, lebih pada persoalan mendasar yakni memberikan pelayanan pendidikan kepada warga Kukar secara keseluruhan.
“Jadi tetap diperlukan sekolah yang dimaksud, walaupun muridnya sedikit tidak mungkin kita tutup, karena akan ada anak didik kita nanti yang putus sekolah,” terangnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan