Skenario tersebut masih menunggu persetujuan dari Plt Bupati Kukar Chairil Anwar.
Hal ini rupanya menjadi perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar. Kepala DP3A Kukar, Aji Lina Rodiah menyumbang saran ada baiknya belajar tatap muka ini dilaksanakan hanya untuk siswa SMP dan SMA saja.
"Untuk siswa SD dan PAUD rasa-rasanya agak sulit untuk menyampaikan soal penerapan protokol kesehatan," kata Aji Lina kepada Korankaltim.com.
SKB Empat Menteri terkait pembelajaran tatap muka ini turut mengatur kondisi kelas.
Untuk PAUD dan SLB diatur per kelas sebanyak lima siswa dan maksimal jarak antar siswa sejauh 1,5 meter. Untuk SD, SMP, SMA sederajat per kelas diatur maksimal sebanyak 18 siswa dengan jarak 1,5 meter.
Kendati begitu, menurut Aji Lina, anak-anak cenderung akan langsung bermain dengan teman-temannya mengingat sudah cukup lama tidak bertemu. Hal tersebut bisa jadi faktor tidak berjalannya protokol pencegahan Covid-19.
"Saya pernah jemput ponakan saya yang sudah kelas satu SMP. Saya tunggu sampai 15 menit, dia malah kejar-kejaran dengan temannya, dari situ kita sudah bisa lihat," imbuhnya lagi.
Hal ini lah yang menurut Aji Lina sedikit ngeri jika membiarkan anak-anak ini bertemu di sekolah tanpa ada pengawasan yang ketat.
"Saya sumbang saran kalau SD dan PAUD itu ditunda dulu lah, kecuali tempat kita sudah benar-benar bersih dari Covid," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan