Persoalan ini sudah sering kali menjadi perbincangan beberapa waktu silam, namun tak kunjung usai persoalannya. Ketidakjelasan status tersebut menjadi hambatan untuk penambahan prodi, peningkatan akreditasi, hingga tembok penghalang peralihan statusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Lalu bagaimana jika pemerintah menghadirkan PTN di Kukar? Nuansa kompetisi antarkampus menjebolkan SDM unggul bakal kental terasa bagi Kukar yang wilayahnya termasuk dalam Ibu Kota Negara (IKN) baru.
Namun kehadiran PTN dirasa kurang berkenan bagi Ketua Tim percepatan Supriyadi. Menurutnya, Unikarta sudah cukup dan mampu menyediakan SDM unggul.
Kampus yang kelahirannya dibidani oleh pemerintah daerah zaman Syaukani HR pada 1984 lalu itu haruslah menjadi prioritas untuk kedepannya didorong menjadi kampus unggulan. "Kampus yang ada saja, sudah ada presepsi yang sama. Ini aja dibesarkan, diunggulkan, dijadikan 'wah!'. ini jadi pilot projek kita," ujar ketua Komisi I DPRD Kukar yang juga Alumni Unikarta itu.
Senada dengan Supriyadi. Ketua Yayasan Kutai Kartanegara (YKK) Agus Setia Gunawan mengatakan, Unikarta sudah menjebolkan alumni yang melenggang berkiprah menduduki kursi dewan hingga posisi pejabat teras di pemerintahan daerah.
Selain itu kepercayaan publik terhadap Unikarta juga terbilang sangat tinggi. Disebutkannya ada beberapa mahasiswa yang datang bahkan dari luar pulau Kalimantan yang datang hanya untuk mengejar pendidikan di kampus ungu itu.
"Orang dari Papua saja datang untuk berkuliah di sini," sebut Agus.
Agus menjawab soal tudingan yayasan mencari untung dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. Dijawabnya sesuai dengan tujuan dan fungsi yayasan, ersifat non-profit dan membantu kesejahterahaan masyarakat.
"Yayasan ini sifatnya sosial, kami tidak mencari keuntungan disana. Maka pendidikan yang dilakukan di Unikarta ini adalah yang tidak hanya bersifat komersil," tegas Agus. (*)
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur