Dia berbagi resep manajemen sekolahnya. Menurut Warni, untuk mendapatkan juara satu budaya mutu nasional, dia jadikan inklusi sebagai ‘jualan’. “Selain memperbaiki manajemen, pembelajaran aktif, dan penerapan program budaya baca, sekolah kami juga menerima dan memberikan perhatian khusus yang besar kepada anak-anak inklusi,” ujar salah satu fasilitator daerah program PINTAR Tanoto Foundation di Kukar ini.
Saat ini, sekolah itu dihuni 325 siswa dan memiliki 12 rombongan belajar. Sebanyak 27 siswa di antaranya masuk kategori inklusi. Siswa-siswa inklusi tersebut ada yang hiperaktif, tuna ganda, tuna grahita, low vision, tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, autis, dan kesulitan belajar. “Jumlah siswa inklusi tergolong banyak, bisa mengalahkan sekolah luar biasa yang biasa per kelasnya 3-4 siswa saja,” ujar Warni.
Pengajar di sekolah tersebut menerapkan metode pembelajaran aktif program PINTAR Tanoto Foundation. Ini membuat siswa inklusi lebih mudah bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Siswa jadi lebih banyak belajar bersosialisasi dan belajar bersikap dengan lebih baik kepada temannya karena proses pembelajaran melibatkan pembentukan kelompok,” ujarnya.
Penilaian budaya mutu ditekankan pada mutu MBS, pembelajaran, UKS, ekstra kuriler, dan perpustakaan. Tidak hanya berdasarkan portofolio yang dikirimkan, petugas kementrian juga turun langsung menilai sekolah selama beberapa hari.
“Kalau kita menekankan pada ekstrakurikuler, kita akan selalu kalah. Sekolah-sekolah di Jawa sangat hebat ekstrakurikulernya. Kita tekankan pada aspek inklusi, yang merupakan bagian MBS, dan juga pembelajarannya,” pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi